By Muhammad Iqbal
Takengon adalah nama Ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kalau dipetakan, Takengon terletak di tengah-tengah wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Karena letaknya yang bukan pada jalur utama jalan antarprovinsi, maka wajar saja kalau jalan menuju ke sana banyak yang rusak, dari yang hanya sompel sedikit sampai lubang yang besar sekali. Jauh lebih besar daripada kerusakan jalan di Ibukota yang sering masuk TV itu. Sayangnya, Takengon letaknya jauh dari kota besar, tidak ada masyarakat ataupun mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut perbaikan jalan. Jadi, jalan menuju Takengon tetap begitu-begitu saja.
Belum banyak yang tahu tentang keindahan Takengon. Bahkan, mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar Takengon. Pamornya masih kalah jauh dibanding Waduk Jatiluhur, Danau Singkarak, apalagi Danau Toba. Sepertinya, Takengon hanya akrab di telinga masyarakat Aceh saja, sekedar artis lokal yang belum terdengar namanya di kancah nasional.
Padahal, potensinya luar biasa. Danau Lut Tawar sudah lama menjadi icon Takengon, selain komoditas kopinya. Danau tersebut terletak tidak jauh dari kota Takengon. Dari atas kumpulan ruko 3 lantai yang ada di kota saja, danau ini sudah dapat dilihat dengan jelas. Hanya sekitar 300 meter dari jantung kota.
Di pagi hari, hawa mistis menyeruak kental sekali dari dalam danau. Air danau sangat tenang, seperti cermin datar yang memantulkan segala apa yang ada di atasnya. Kabut dengan jelas terlihat melapisi permukaan danau, sedikit demi sedikit merangkak ke atas, sampai akhirnya hilang sama sekali. Seakan, sinar matahari menyedot semua kabut itu, kemudian akan dimuntahkannya lagi di malam harinya. Sinar matahari itu dengan tersipu malu memancarkan kehidupan dari balik bukit di pinggir danau. Bukit yang berangkulan erat di setiap sudut danau, menjaga danau dengan sepenuh raga.
Untuk mendapatkan pemandangan danau Lut Tawar yang indah itu, hanya jalan darat yang bisa digunakan. Dari kota medan, ada angkutan L300 yang siap mengantarkan kita ke kota takengon. Alternative kedua, jalan darat dari Banda Aceh. Kalau ingin mengenal Aceh lebih dekat, ada baiknya kita menggunakan jalur dari Banda Aceh. Lagi-lagi, L300 yang jadi andalan. Biayanya 80 ribu. Dari Banda, akan memakan waktu sekitar 8 jam.
Selama perjalanan ini, L300 akan melakukan paling tidak dua kali pemberhentian. Sebelum pemberhentian pertama di Sare, kita akan melewati gunung Seulawah sehingga jalan akan berkelok. Cukup untuk membuat pusing. Sare adalah suatu daerah yang dulunya sepi sekali, tidak ada kehidupan manusia, kemudian pemerintah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Sare. Mayoritas transmigran bertani. Hasil pertaniannya inilah yang dijual di pinggir-pinggir jalan sehingga banyak mobil yang mampir ke Sare sekedar untuk berbelanja. Satu makanan olahan yang terkenal di tempat ini adalah keripik ubi. Bermacam jenis keripik ubi yang ditawarkan, tergantung selera.





Komentar Terakhir