Perjalanan Menembus Kabut

20 01 2010

by Ilma Dityaningrum

Saat itu, saya melakukan perjalanan bersama ibu dan kedua adik laki-laki. Kami memulai  perjalanan dari Jakarta pada dini hari. Tujuan kami dalam perjalanan kali ini adalah Jawa Timur dan Bali. Tetapi, seperti biasa, ibu selalu membawa kami untuk berjalan-jalan, mencari track baru, dan mengunjungi tempat-tempat menarik yang akan dilewati sebelum menuju tempat tujuan kami. Dengan memelototi peta jawa yang saya pegang, saya mencari garis biru dan merah menuju dieng pada peta. Ya, ibu ingin membawa kami menuju dataran tinggi dengan sejuta pesona, Dieng.

Kabut senja di perkebunan Dieng (Jawa Tengah)

Berangkat melalui jalur Banjarnegara (itu adalah track pertama kali yang ibu coba untuk sampai ke dieng). Untuk mencapai dieng, bisa saja kita melalui jalur semarang. Tetapi, setelah melihat peta, ibu memutuskan untuk melewati jalur banjarnegara. Jalur yang belum pernah kami coba dengan mengendarai mobil. Siang itu matahri terasa berada sangat dekat. Cuaca sedang panas memang, dan kami sedang berada di daerah Purwokerto. Lalu, sore hari, kami sudah hampir sampai di pintu dieng.

Sore itu hujan lebat.  Jalanan yang kami lewati meliuk, curam dan licin. Belum lagi, terkadang di depan kami berhenti mobil pengangkut sayuran yang berhenti mendadak di tengah hujan dan jalanan yang licin dan berkelok. Cukup sulit bagi ibu saat itu.  Suatu ketika, mobil kami tidak mampu naik terus di atas jalanan yang terkadang berlubang. Belum lagi kabut tebal dan hujan rintik yang semakin membuat ibu kesulitan untuk menyetir.

Mobil berhenti di tengah-tengah kabut dan jalan yang menanjak. Kiri kanan kami jurang. Saya saat itu sangat khawatir, ibu tidak bisa menahan kakinya di atas rem, sekalipun sudah menggunakan rem tangan. Mobil tetap tidak mau berjalan. Selip, kata adikku. Akhirnya, aku dan seorang adikku keluar dari mobil. Mencari batu besar untuk mengganjal mobil. Sekali lagi ibu mencoba menginjak gas sebisa mungkin, agar mobil tidak merosot turun ke arah jurang. Aku dan adikku yang berada di luar mobil merasa sesak untuk bernafas. Kabut terlalu tebal dan dingin. Mobil atau motor yang lewat pun tidak ada. Jalanan sepi.

Setelah cukup lama kami bertahan, akhirnya mobil berhasil kembali jalan. Tanpa berhenti, ibu terus memacu mobil hingga mobil berada di atas jalanan yang datar. Artinya, aku dan adikku harus berjalan dan sedikit berlari untuk mengejar mobil dengan sisa-sisa tenaga dan nafas yang terengah karena kabut.

Dalam keadaan kabut yang tebal dan cuaca yang dingin karena hujan, cukup sulit mendapatkan udara yang enak untuk bernafas. Huuuuffff itu pengalaman yang seru sekaligus menegangkan, mengingat betapa dalamnya jurang yang berada di tepi jalan tadi. Sore hari menjelang senja, akhirnya kami sampai di Dieng. Saat itu hujan. Kawasan candi yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-7, berdiri gagah diantara hijaunya rumput , bersembunyi di balik tebalnya kabut.

Ah, Dieng, seribu pesona dengan beragam wisata menarik. Dieng berasal dari kata Di hyang, yang artinya adalah tempat para Dewa bersemayam. Dalam ajaran Hindu, dewa-dewa diyakini berada di tempat-tempat tertinggi, seperti gunung. Maka, Dieng menjadi tempat yang pas  untuk keberadaan komplek candi arjuna di kawasan Dieng, yang dijadikan tempat pemujaan umat Hindu untuk para Dewa.

Kita bisa mengunjungi banyak titik wisata di sana. Mulai dari wisata Sejarah, Agro sampai wisata geologi. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara kadang dapat mencapai 0°C di pagi hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk lokal biasanya menyebut suhu ekstrem itu dengan bun upas yang artinya “embun racun” karena embun ini bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Kita bisa menikmati Indahnya bangunan candi hindu yang dibangun sekitar abad ke-7.

Di sana, kita juga bisa menikmati indahnya kawah-kawah vulkanik dan gua yang sering digunakan sebagai tempat olah spiritual. Oia, di sana juga ada banyak telaga, salah satunya adalah telaga Werna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung. Bagus banget kan?

Mmmm… sebenarnya di sana juga terdapat museum yang menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Museum Kaliasa namanya, di sana terdapat sebuah teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran. Tapi, sayangnya ketika kami ke sana, Museum Dieng Kaliasa sudah tutup (waktu itu, saya melakukan perjalanan dari bandung dengan mobil pribadi pukul 5 subuh dan sampai di Dieng sekitar pukul 4 sore dengan melalui jalur Banjarnegara yang tracknya cukup sulit).

Berhubung Dieng berada di 6.802 kaki atau 2.093 m dpl, kita akan membutuhkan sarung tangan, jaket dan syal tebal agar tidak mati kedinginan di sana. Apalagi ketika musim hujan. Kadang-kadang, aroma yang segar akan samar-samar diwarnai bau belerang, terutama di sekitar kawah. Di kawasan itu memang banyak terdapat kawah aktif.

Dari kejauhan, kawasan Dieng terlihat seperti puncak gunung yang patah sehingga menyisakan dataran dengan banyak kawah. Itulah sebabnya dieng dinamakan Plateu yang berarti dataran di atas pegunungan. Untuk penginapan, biasanya penginapan mematok harga yang tidak terlalu mahal, berkisar antara 40 ribu rupiah sampai 60 ribu rupiah. Dan untuk pengunjung yang ingin menyewa kendaraan roda dua juga bisa, karena di sana banyak penyewaan sepeda motor.

Untuk backpacker seperti kita, transportasinya relatif mudah. Perjalanan bisa ditempuh melalui jalur jalan dari kota Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga atau Pekalongan. Tetapi akses yang paling tenar adalah dari Wonosobo. Dan untuk masalah transportasi, jika kita melalui Wonosobo, kita bisa naik bus kecil yang menuju Dieng.

Malam itu, Dieng berubah menjadi tempat yang sunyi dan sangat dingin. Seperti di dalam kulkas berukuran raksasa, kami menggigil, menggertakkan gigi-gigi kami dan menggosok-gosokkan tangan kami yang sudah bersarung tangan tebal.

Malam itu setelah kami menghangatkan tubuh dengan hangatnya sate ayam dan teh manis yang dijual di depan penginapan, kami meneruskan perjalanan menuju Jawa Timur dengan membelah pegunungan dengan gelapnya yang mengekor melalui kota Wonosobo dan Ambarawa.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.