Me-Malang-Buana

6 01 2010

Oleh : Sri Anindiaty Nursastri

Kami menatap lembah Bromo dengan takjubnya. Tak menyesal kami membuang nafas, merelakan kaki ketar-ketir menopang badan. Hamparan pasir terlihat kaku, tak tergubris angin mau pun intervensi kaki kuda yang menjadi kendaraan umum di sini. Bau belerang pun tak menyengat. Kami diam menikmati angin, tak menyangka embusannya membawa kami ke sini. Tidak, teman. Tujuan kami bukan ke sini.

————————————————————————————————————-

Tiga hari sebelumnya.

Aku terbangun karena panas. Kelima temanku masih berada dalam alam mimpi masing-masing. Matarmaja yang kunaiki bertambah sumpek, beruntunglah kami berangkat dari Pasar Senen, Jakarta, yang merupakan stasiun pertama. Kereta besi biru-oranye inilah yang mengantar kami ke Malang, 51 ribu rupiah.

Ramai sekali dalam sini. Pengamen, penjaja makanan, sampai preman lalu-lalang membawa keributan hingga ubun-ubun. Masing-masing indera seakan diberi cobaan. Mata terkadang terpaksa membuka karena tak sanggup tidur. Telinga selalu diganggu oleh teriakan “Kopi, pop mie!” yang datang hampir tiap menit. Sedangkan hidung adalah yang paling berat cobaannya. Sembilan belas jam diiringi bau apek, makanan anyir, asap rokok, bercampur keringat dan wewangian orang yang mabuk darat.

Kamis, 17 Desember 2009. Stasiun Malang sudah dipijak. Bekas-bekas penjajahan kereta Matarmaja di tubuh masing-masing membuat kami bergegas mandi. Dua ribu rupiah, dan badan kembali berseri. Beranjak keluar stasiun, seorang bapak-bapak Madura menawari kami sewa mobil, plus dirinya sendiri sebagai supir. Maka berjubel-lah mobil Panther-nya diisi 9 orang.

Daerah Batu adalah tujuan kami yang pertama. Batu adalah kotamadya yang menghubungkan Malang dan Kediri. Sejuk, ibarat Lembang bagi kota Bandung. Sang bapak Madura menawari penginapan super murah, Wisma Ijen, yang bertarif Rp 60 ribu/malam. Tiga kasur, satu ruang tamu dan satu kamar mandi.

Setelah memberi makan perut yang bergemuruh, kami beranjak ke air terjun Coban Rondo. Perjalanan sungguh menyenangkan. Memasuki kawasan air terjun, pengiring kami bukan hanya pohon dan rerumputan yang hijau, tapi juga kera. Kera di sini tergolong banyak. Tak jarang mereka malu-malu mendekati para pengunjung. Terkesan menakuti, namun nyatanya meminta makan.

di bawah Coban Rondo

Wajar rupanya jika merasakan gerimis ketika semakin dekat dengan air terjun. Sekitar 100 meter tingginya. Air yang jatuh langsung menabrak bebatuan yang runcing jauh di bawahnya. Lima meter dari bebatuan tersebut pun, tubuh sudah basah kuyup. Perpaduan air dan udara gunung sukses membuat kami menggigil kedinginan.

Anda tahu sendiri orang kedinginan maunya apa : makan! Puas berfoto dan bermain air, kami beranjak ke sebuah tempat bernama Payung, tempat makan jagung bakar dan minum susu segar. Penginapan kembali menyambut kami. Sang Bapak Madura mematok Rp 250 ribu untuk perjalanan sedari tadi. Masing-masing orang patungan tak lebih dari Rp 30 ribu.

Badan bisa tiduran dan kaki bisa selonjor di penginapan. Nyaman. Tak lama, yang wanita bergegas ke kota Malang untuk berbelanja keperluan esok hari. Ada pula yang bersiap membeli sandal gunung, yang ternyata sangat berguna untuk tujuan kami selanjutnya.

Sempu nan Biru

Tujuan kami selanjutnya adalah tujuan yang sebenarnya, Pulau Sempu. Untuk inilah kami rela berjauh-jauh dari sibuknya Jakarta, berharap perjuangan kami terbayar.

Travel agent sudah menunggu di depan Universitas Muhamaddiyah Malang (UMM). Masing-masing membayar Rp 165 ribu untuk segala keperluan di Pulau Sempu nanti. Total peserta 17 orang, belum termasuk 3 orang guide. Dua buah Panther dan sebuah Trooper sigap mengantar ke Pelabuhan Sendang Biru.

Perjalanan ke Sendang Biru fantastis. Jalannya kecil dan mulus teraspal, serasi dengan tanjakan-turunan yang terkadang sangat ekstrim. Tiga jam penuh dengan gunung dan sawah. Namun ketika mobil menuruni bukit, turun terus dan terus, sampailah di bibir pantai. Voila! Seakan baru saja turun dari gunung tiba-tiba bertemu pantai. Jomplang.

Sekarang aku mengerti mengapa namanya Sendang Biru. Memang lautnya sungguh biru, muda di pinggir dan tua di tengah. Pasir sungguh putih-bersih. Anak-anak kecil berenang riang, beberapa kapal nelayan mengapung mengikuti kecilnya arus. Kami bergegas makan. Nasi+soto ayam+es teh botol total Rp 10 ribu.

Pulau Sempu tampak ditanam terlampau dekat dengan pelabuhan Sendang Biru. Besar dan bergunung-gunung. Rombongan kami dibagi menjadi 2 kapal. Perjalanan dengan kapal nelayan tak lebih dari 15 menit. Petualangan dimulai ketika kami turun sekitar 50 meter sebelum bibir pantai. Tak dalam, hanya sebetis orang dewasa. Namun cukup untuk kami meminta rombongan kapal satunya untuk mengabadikan pose “sok-sok petualang”. Setelah itu giliran mereka teriak, “Woy, gantian!”

Pelabuhan yang kami jajaki namanya Teluk Semut. Tak ayal, semut merah memang merajalela dan menanam banyak investasi di sini. Sarangnya berbentuk gundukan, persis gunung berapi. Bedanya dari puncak gunung keluar lava, dari puncak sarang ini keluar semut.

Trekking bisa ditempuh kurang-lebih satu jam jika tanpa istirahat. Medan yang dilalui pun tak terlampau sulit, karena sudah ada jalan setapaknya. Di sinilah sendal gunung berguna. Pohon dan ranting mati bergelimpangan, terkadang tumbuh di tempat tak terduga. Misal, ada sebuah pohon besar yang tumbuh horizontal ke kanan.

Langkah demi langkah menuntun kami ke satu tempat yang adalah mahakarya pulau Sempu: Segoro Anakan. Sejak pertama kali mataku menangkap warna biru khas air laut, hampir tak bisa mulutku berkata-kata. Segoro Anakan seperti lukisan. Lukisan dengan banyak dimensi, tepatnya.

Segoro Anakan

Pantai ini terlihat seperti danau dengan background tebing karang dan bukit hijau tua. Hanya ada satu celah yang menghubungkan Segoro Anakan dengan Samudera Hindia. Dari sanalah air di pantai ini berasal. Gelombang ombak yang masuk juga membawa banyak ikan. Aku bisa jelas melihat mereka menari, berkelompok, membentuk sebuah formasi.

Beberapa dari kami tak sabar untuk mencicipi pantai ini. Airnya dangkal, namun semakin jauh tetap semakin dalam. Tak ayal banyak orang bilang kalau Segoro Anakan adalah “The Beach”-nya Indonesia. Namun tanpa ganja, dan tanpa Leonardo Di Caprio tentunya.

Beranjak dari pantai, aku menaiki tebing karang yang membelakangi Segoro Anakan. Tak terlalu tinggi, namun runcing. Akan sangat berbahaya jika jatuh. Sampai di atas tebing, sejauh mata memandang adalah Samudera Hindia. Biru, berombak dan tampak galak. Seakan melindungi apa yang kini kami pijak.

Matahari mulai malu-malu kucing. Kami makan yang instan-instan saja, pop mie dan sesekali menggoreng sosis. Malam penuh dengan cengkrama, tak habis-habis tawa ini kami buang. Sekecil apa pun bahan pembicaraan dibuat candaan. Hangat sekali. Bintang-bintang sangat cerah, setia menerangi seakan takut kami kekurangan cahaya. Terkadang pula ia menjatuhkan diri, terkesan ingin menyenangkan diri kami dengan sugesti “make a wish”.

Udara memang tidak dingin, bahkan cenderung panas. Namun berhati-hatilah pada serangga, karena tidak sedikit yang terkena gigitannya. Merah dan gatal. Jika saja ada yang berjualan kayu putih, dialah yang paling laku di sini. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah kebersihan. Tak ada MCK. Jangan protes jika harus membuang air—kecil maupun besar—di  semak-semak. Oleh karena itulah kami masing-masing membawa dua botol air mineral ukuran 1,5 liter.

Keesokan harinya, matahari menampakkan diri terlalu cepat. Aku terbangun mengira sudah pukul 08.00, nyatanya masih pukul 05.30. Menyadari di luar sudah banyak orang, aku berbenah dan mengikuti jejak teman-teman lain ke atas tebing yang baru kujajaki kemarin. Silau. Kusadari diriku telat melihat terbitnya matahari, ia sudah menampakkan diri sepenuhnya. Jika mungkin, akan kuminta ia menenggelamkan dirinya sedikit saja, lalu muncul lagi agar bisa kuambil gambarnya.

Roti bakar, telur orak-arik, dan indomie kuah menunggu kami sepulang dari tebing. Aku makan sedikit saja, lalu kembali tenggelam dalam keindahan pantai Segoro Anakan yang letaknya hanya beberapa meter dari tenda kami. Ada beberapa rombongan baru yang berkemah di pantai ini. Persis kami : girang dan sumringah.

Saatnya pulang. Ketika berbenah, terhitunglah sampah bekas pergulatan kami semalam. 28 botol air mineral dan 7 keresek sampah. Tentunya semua kami bawa pulang, lalu dibuang di tempat seharusnya. Tak rela pantai seindah ini dikotori tangan-tangan manusia, layaknya pantai-pantai terkenal tapi sudah kotor terjamah.

Trayek yang sama kami lewati ketika berjalan pulang. Tak terlampau lelah, karena sudah banyak barang yang dienyahkan ketika kemah tadi malam. Perjalanan tak berhenti di sini. Dari pelabuhan Sendang Biru, kami langsung tancap gas ke Kampung Irian. Dinamakan begitu karena penduduknya adalah orang asli Irian, yang menetap selama beberapa keturunan. Setelah turun mobil dan berjalan sekitar 200 meter, kami dihadapkan pada jalan yang terbuat dari susunan kayu, meliuk-liuk di antara hutan bakau.

Fantastik. Itulah yang menggambarkan Kampung Irian. Jalan kayu yang kini kami lewati makin terasa sebagai setting film saking indahnya. Tiba di rumah salah satu penduduk, kami makan siang dengan ikan bakar. Ikan apa itu aku pun tak tahu, yang jelas masih terlihat corak di sisiknya. Lahap sekali.

Rumah para penduduknya memang didesain di atas air, sesuai dengan jalan kayu yang tadi kami lewati. Lucunya, saking lantai rumah tersusun dari jajaran kayu, aku dapat melihat dengan jelas ikan-ikan berseliweran di bawah kakiku sendiri. Meliuk-liuk dalam air biru muda nan jernih. “Ya, kita bisa memancing dari sini!” canda salah satu temanku.

Acara makan-makan dilanjutkan dengan berbenah diri. Mandi dan siap kembali ke kota Malang. Langsung menuju stasiun, memesan tiket, dan kembali berkutat di kereta api Matarmaja. Pasrah pada takdir sampai Jakarta.

Namun, saat inilah persuasi terjadi. Beberapa orang akan melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo. Menggiurkan. Rupanya yang berminat banyak juga. Alasannya, “Kan jauh-jauh kita ke sini.. Dari pada mesti balik lagi, hayooo?”

Aku adalah salah seorang yang terkena efek persuasi dengan alasan tak jelas itu. Setelah tung-itung-itung lembaran kertas di dompet, aku masuk juga ke rombongan mereka. Rombongan spontanitas!

Mandadak Bromo

Travel agent pulau Sempu mengantar kami hingga alun-alun kota Malang. Adzan maghrib. Masjid Agung Malang berdiri tegap di hadapan alun-alun yang remang-remang. Para penjaja makanan mengitari tempat ini. Dan, sungguh, jika ke Malang cobalah bakso Malang. Sungguh beda rasanya, enak sekali!

Rombongan spontanitas kami total 15 orang. Kami menyewa dua buah mobil Colt, masing-masing Rp 450 ribu. Tiap kepala kena Rp 60 ribu untuk rute Malang-Pananjakan-Bromo-kembali ke Malang. Kami menunggu Colt menjemput pukul 01.00 dinihari. Masih pukul 19.00, dan perut mulai mencicit minta disuplai. Ada sebuah pujasera tak jauh dari alun-alun, juga tak terlampau ramai. Aku makan tahu campur plus jus mangga, total Rp 12.500.

Masih sekitar 4 jam lagi menunggu sepasang Colt datang. Gerimis. Kami berteduh di trotoar dalam alun-alun, dan aku langsung merebahkan diri. Tidur tanpa tedeng aling-aling. Baru bangun ketika dicolek, “Hei, itu mobilnya udah dateng!” bisik temanku. Aku beranjak, duduk di bangku tengah, jajaran paling tengah. Alam tidur kusambung lagi.

Aku sempat terbangun karena goncangan pada mobil. Yang kutahu, jalannya sangat berkelok dan sempit. Mobil pun sangat lincah seakan tak peduli badannya yang lumayan gendut. Merasa pusing, aku kembali tidur.

Mobil berhenti di keramaian. Rupanya kami telah tiba di tempat parkir Pananjakan, sebuah tempat melihat sunrise dengan pemandangan yang menakjubkan. Pukul 03.00, kabar angin membawa informasi udara di luar sekitar 10 derajat celcius. Satu pun orang di mobil kami belum ada yang beranjak. Namun rupanya, kami harus bergegas ke “centre point” Pananjakan karena takut tidak kebagian tempat. Maksudnya?

Pertanyaan ini terjawab ketika tiba di tempat. Pananjakan, rupanya adalah sebuah tempat berkumpul—seperti beranda pada rumah—dengan tempat duduk tersusun seperti bioskop menghadap pemandangan nan eksotis. Gunung Bromo, Semeru dan Batok tampak berlomba-lomba mencuri perhatian. Matahari seharusnya muncul dari sela-sela awan di atas mereka.

pemandangan dari Pananjakan

Manusia berjubel di sini. Semuanya menanti hal yang sama. Masih pukul 04.00. Dan benar saja, aku dan beberapa teman spontan membeli sarung tangan, Rp 5 ribu. Semua jaket kami pakai, termasuk syal. Efektif mengurangi gemeletuk pada gigi. Sayang beribu sayang, cuaca pagi ini kurang bersahabat. Matahari tertutup awan, cuaca terang secara tiba-tiba. Kami bergegas menuju Bromo.

Perjalanan menuju Bromo rupanya sangat ekstrim. Tiap turunan terasa sangat curam, cenderung tak masuk akal. Aku sampai menahan kakiku agar tidak maju ke depan. Namun ketika selesai acara “turun-menurun” itu, kami dihadapkan pada lapangan pasir. Sangat luas dan terasa sekali lembah-nya. Mobil kami berjalan di hamparan padang pasir yang dikelilingi bukit. Bukitnya hijau dengan satu pohon tiap tiga meter. Menarik!

Kedua supir mobil Colt memberhentikan kendaraannya tepat di tengah padang pasir. Ah, bapak-bapak ini tahu saja kami narsistik. Beragam pose dan gaya kami keluarkan. Di tengah padang pasir abu-abu ini, percayalah, hasil fotonya serasa tak di Indonesia.

Satu jam puas berpose, kami langsung menuju gunung Bromo. Tak sampai sepuluh menit dari tempat kami berfoto-ria tadi. Kami harus berjalan kaki lumayan jauh. Sebetulnya ada banyak kuda yang siap disewa untuk mengantar sampai setengah perjalanan. Rp 20 ribu sekali jalan. Namun kami tetap semangat ’45 untuk berjalan menaklukkan puncaknya.

Kesulitan pertama adalah karena medannya pasir. Pasir membuat kaki berat untuk melangkah, sehingga dibutuhkan tenaga ekstra. Belum lagi jika pasirnya agak tebal, kaki bisa masuk ke dalamnya dan butuh tenaga lebih lagi untuk lanjut berjalan. Kesulitan kedua, adalah ketika kuda-kuda berjalan menembus pasir dan angin membawa pasirnya ke mata. Tak hanya mata, terkadang mulut juga terisi beberapa butir.

Aku sampai di pangkal tangga terengah-engah, langsung duduk selonjor kaki. Biasanya sewa kuda berakhir di sini, jadi pengunjung tinggal naik tangga saja. Ada 265 anak tangga yang harus didaki. Aku naik perlahan. Beberapa kali istirahat. Namun ketika aku menginjakkan kaki di puncak, rasanya luar biasa.

dari atas Bromo

Mungkin karena aku baru pertama kali ke sini. Tapi sungguh, sejauh kepala berputar ke berbagai arah, pemandangannya fantastis. Di satu sisi aku menghadap lautan pasir, lengkap dengan pura dan tempat parkir mobil yang imut sekali dari sini. Di sisi lainnya aku menghadap kawah gunung Bromo, begitu dekatnya sehingga tiap retakan terlihat jelas. Aku diam, memandang asap putih yang keluar perlahan.

—————————————————————————————————————-

Kami menatap lembah Bromo dengan takjubnya. Nafas berburu dan kaki ketar-ketir menopang badan. Hamparan pasir masih terlihat kaku,  tak tergubris angin mau pun intervensi kaki kuda. Bau belerang masih samar-samar. Nyatanya, angin membawa kami ke sini. Mengandalkan rasa ingin tahu dan kecintaan pada negeri sendiri.

Foto : Dok. Muhammad Rahmannul Alianta





MATARMAJAGENIK.

25 12 2009

Oleh : Sri Anindiaty Nursastri

namanya Matarmaja.

luarnya berkisar antara besi dan baja. dilapisi warna biru dan oranye yang menyala.
Matarmaja adalah pelintas pulau Jawa. Namanya adalah akronim dari Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta.

status ekonominya sangat terasa. tempat duduk berjejer tiga-dua.
tak melulu ada nomor kursi di tiketnya. yang tak kebagian tempat duduk dihadapi tiga pilihan : mengampar di lantai, berdiri di dekat pintu agar masuk angin, atau merangsek duduk berempat di tempat duduk (yang harusnya) bertiga.

gelagat premanisme jelas adanya. premanisme yang mengatasnamakan kebersihan.
mereka tahu saja kenyataan bahwa yang takut yang menunduk. maka dicoleklah yang menunduk itu. yang dicolek-colek makin menunduk. yang mencolek makin girang.

yang mengamen mulai dari satu orang, dua orang, hingga satu grup kumplit dengan gitar-harmonika-alat tabuh, dan kecrekan.
mulai dari laki-laki, wanita, hingga banci berkebaya.
mulai dari meminta, memaksa, hingga (kembali) mencolek-colek.

Matarmaja adalah pengalah. jangan kira mesinnya rusak atau mati di tengah jalan.
itu adalah sikap budi luhur sang Matarmaja : mengalah dengan sebangsanya yang yang memiliki derajat lebih tinggi. bisnis dan eksekutif.
layaknya bawahan menunduk pada atasan. layaknya pembantu pada majikan.

Matarmaja adalah tempat di mana kepala penumpangnya terantuk-antuk ke depan karena kursi yang tak nyaman untuk tidur bersandar. Ketika bangun, Matarmaja adalah tempat di mana penumpangnya kepanasan dan mencari kipas, lalu merangsek tidur kembali dengan posisi berbeda.
Matarmaja adalah surga para penjaja. mulai dari makanan, buku, boneka, mainan, kipas, VCD bajakan, sampai alat pijat. penjaja pop mie dan kopi adalah penguasa. berbekal air termos dan gelas plastik, mereka siaga merobek bungkus kopi dan membuang bekasnya di lantai kereta.

Matarmaja adalah lawan dari kesehatan, di mana penumpangnya suka cita menahan haus agar tak perlu kencing di WC yang baunya tak terkalahkan.
di mana penumpangnya mencerna makanan yang entah bersih atau tidak,
di mana asap rokok bertebaran layaknya kabut di langit-langit kereta.

Matarmaja adalah penguji kesabaran, di mana para penumpangnya berusaha tidak menggubris segala kebisingan dan kebauan di dalamnya. bertahan selama 18 jam.
tempat di mana sebum bertumpuk di muka para penumpangnya, serasi dengan keringat yang membasahi badan.

Matarmaja adalah rintangan, di mana penumpangnya menghela nafas panjang ketika menginjakkan kaki di tempat tujuan. merasa puas.





Backpacking Kediri – Malang

17 12 2009

by Muhammad Iqbal

Jauh sebelum wisuda Oktober 2008 lalu, saya sudah bertekad ingin liburan habis-habisan. Tadinya saya dan beberapa teman berniat ke Bali dan sekitarnya. Rencana sudah matang, tiba-tiba sebagian besar mundur karena sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mungkin meliburkan diri selama 10 hari. Di saat kekecewaan itu, Yossy, salah satu senior saya menceritakan tentang aktivitasnya di Kampung Bahasa, Pare, sebuah Kecamatan di Kediri. Tempat ini adalah sentra kursus Bahasa Inggris termurah di Indonesia.

Setelah chating dengan Yossy, saya langsung plot waktu untuk liburan dan meminta izin bos. Disetujui, dua minggu. Sambil saya menunggu waktu liburan itu, saya mencari beberapa cerita tentang kampung bahasa dan beberapa kawasan wisata di Jawa Timur. Bromo menjadi incaran utama yang masuk dalam rencana liburan.

Saya berangkat naik bus Lorena dari Rawa Mangun langsung ke Kediri. Kalau sesuai rencana, bus berangkat pukul 3 sore dan sampai pukul 6 pagi keesokan harinya. Tapi karena ketika itu sedang musim liburan tahun baru, maka kejadianlah bus itu baru berangkat pukul 7 malam, sampainya di Kediri pukul 4 sore. Sehari semalam di bus mengutuki ketidaknyamanan menggunakan Lorena. Mulai dari waktu datang bus yang terlambat sampai supir bus yang merokok. Mengecewakan.

Namun, ada juga hikmahnya. Saya jadi bisa mendapatkan pemandangan bagus dari pagi sampai sore. Satu jam sebelum Ngawi, di kanan kiri jalan terhampar sawah sampai ujung mata memandang. Ke luar Ngawi menuju Madiun juga demikian, keluar Madiun juga masih sawah yang berkuasa. Lebih susah mencari orang daripada sawah. Seperhatian saya, ada 3 tanaman utama: padi, jagung, dan tebu. Ternyata benar kata buku-buku IPS zaman SD dulu, Indonesia adalah negara agraris.

Sampai di terminal Kediri. Menurut berbagai narasumber, saya harus mencari bus Puspa Indah yang menuju Malang turun di BEC, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Bahasa. Yossy dan Iffan yang menjemput. Iffan baru saya kenal di Pare. Dia menjadi kawan sekamar saya selama di Kampung Bahasa. Hampir setiap malam kami bertiga hunting makanan di daerah Pare. Terkadang beberapa rekan seatap Yossy ikut hunting. Hunting dengan sepeda yang kebanyakan dari kami menyewanya dari bengkel sepeda. Sepeda masih sangat “in” di daerah ini.

Sebetulnya tidak ada yang terlalu spesial dengan makanan Pare. Perbedaan yang paling mendasar adalah harga, di Pare harga makanan sangat murah. Oya, ada satu lagi keunikan. Di Pare menjamur warung nasi pecel. Kalau di Bogor atau Jakarta kebanyakan warung menawarkan pecelnya saja. Kalau di Pare dan kebanyakan tempat di Jawa Timur, pecel tersebut langsung dicampur dengan nasi. Ditambah kerupuk peyek. Standar harganya Rp2.000/porsi.

Kampung Bahasa

Variasi makanan lebih terlihat di alun-alun Pare. Harganya juga lebih tinggi daripada di kampung Bahasa. Untuk mencapai alun-alun, perlu waktu sekitar 10 menit bersepeda dari kos saya di Kampung Bahasa. Alun-alun di Pare ini unik, tumben-tumbenan ada alun-alun di tingkat Kecamatan. Biasanya alun-alun ada di kabupaten. Mungkin ini menjadi salah satu indikator majunya Kecamatan Pare. Pernah satu malam minggu saya main ke alun-alun. Ramainya luar biasa. Malam minggu di alun-alun bukan hanya untuk anak muda, tapi banyak juga orang tua yang membawa anak-anak kecilnya menghabiskan malam di alun-alun. Pedagang bertaburan di malam minggu. Makanan yang membuat saya geli adalah sate bekicot. Banyak yang menjajakan sate bekicot. Mungkin karena banyak persawahan di sini sehingga banyak juga bekicot. Selain pedagang, ada juga jasa rekreasi mobil-mobilan mirip bom bom car untuk anak kecil. Berkelap kelip lampu mobil itu menambah semarak malam minggu alun-alun.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.