Backpacking Takengon

16 12 2009

By Muhammad Iqbal

Takengon adalah nama Ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kalau dipetakan, Takengon terletak di tengah-tengah wilayah provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Karena letaknya yang bukan pada jalur utama jalan antarprovinsi, maka wajar saja kalau jalan menuju ke sana banyak yang rusak, dari yang hanya sompel sedikit sampai lubang yang besar sekali. Jauh lebih besar daripada kerusakan jalan di Ibukota yang sering masuk TV itu. Sayangnya, Takengon letaknya jauh dari kota besar, tidak ada masyarakat ataupun mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut perbaikan jalan. Jadi, jalan menuju Takengon tetap begitu-begitu saja.

Belum banyak yang tahu tentang keindahan Takengon. Bahkan, mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar Takengon. Pamornya masih kalah jauh dibanding Waduk Jatiluhur, Danau Singkarak, apalagi Danau Toba. Sepertinya, Takengon hanya akrab di telinga masyarakat Aceh saja, sekedar artis lokal yang belum terdengar namanya di kancah nasional.

Padahal, potensinya luar biasa. Danau Lut Tawar sudah lama menjadi icon Takengon, selain komoditas kopinya. Danau tersebut terletak tidak jauh dari kota Takengon. Dari atas kumpulan ruko 3 lantai yang ada di kota saja, danau ini sudah dapat dilihat dengan jelas. Hanya sekitar 300 meter dari jantung kota.

Di pagi hari, hawa mistis menyeruak kental sekali dari dalam danau. Air danau sangat tenang, seperti cermin datar yang memantulkan segala apa yang ada di atasnya. Kabut dengan jelas terlihat melapisi permukaan danau, sedikit demi sedikit merangkak ke atas, sampai akhirnya hilang sama sekali. Seakan, sinar matahari menyedot semua kabut itu, kemudian akan dimuntahkannya lagi di malam harinya. Sinar matahari itu dengan tersipu malu memancarkan kehidupan dari balik bukit di pinggir danau. Bukit yang berangkulan erat di setiap sudut danau, menjaga danau dengan sepenuh raga.

Untuk mendapatkan pemandangan danau Lut Tawar yang indah itu, hanya jalan darat yang bisa digunakan. Dari kota medan, ada angkutan L300 yang siap mengantarkan kita ke kota takengon. Alternative kedua, jalan darat dari Banda Aceh. Kalau ingin mengenal Aceh lebih dekat, ada baiknya kita menggunakan jalur dari Banda Aceh. Lagi-lagi, L300 yang jadi andalan. Biayanya 80 ribu. Dari Banda, akan memakan waktu sekitar 8 jam.

Selama perjalanan ini, L300 akan melakukan paling tidak dua kali pemberhentian. Sebelum pemberhentian pertama di Sare, kita akan melewati gunung Seulawah sehingga jalan akan berkelok. Cukup untuk membuat pusing. Sare adalah suatu daerah yang dulunya sepi sekali, tidak ada kehidupan manusia, kemudian pemerintah melakukan transmigrasi dari Jawa ke Sare. Mayoritas transmigran bertani. Hasil pertaniannya inilah yang dijual di pinggir-pinggir jalan sehingga banyak mobil yang mampir ke Sare sekedar untuk berbelanja. Satu makanan olahan yang terkenal di tempat ini adalah keripik ubi. Bermacam jenis keripik ubi yang ditawarkan, tergantung selera.

Pemberhentian kedua adalah di kota Biereun. Tempat ini jauh lebih ramai daripada Sare. Ada satu jenis produk yang sangat tersohor se-antero Aceh, yakni Keripik Biereun. Sekali coba pasti langsung terpesona. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang membawa Keripik Biereun sebagai oleh-oleh khas Aceh. Bahan dasar keripiknya beragam, ada pisang, ubi, dan Sukun. Keripik Sukun yang mempunyai keunikan lebih dibanding teman sejawatnya. Satu kilo keripik sukun dibandrol dengan harga 50 ribu, jauh lebih tinggi dibanding keripik pisang dan ubi yang tidak lebih dari 20 ribu saja.

Terminal di Biereun bisa dikatakan yang paling padat diantara terminal lain di Aceh. Mungkin ini karena adanya angkutan BE (Biereun Express), selain bus antar kota, L300, dan labi-labi (angkutan lokal, mirip angkot).

Sepanjang perjalanan, sering sekali terlihat hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Sapi-sapi di Aceh seakan tidak memiliki kandang permanen. Penduduk melepaskan begitu saja sapinya. Sehingga menjadi pemandangan yang wajar ketika ada sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat sampah pasar, ada yang berkeliaran di lapangan, bermain bersama anak-anak kecil yang sedang asik bermain bola. Sapi memang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.

Perjalanan dari Biereun menuju Takengon tidak semulus perjalanan sebelumnya. Jalan berkelok-kelok dan mendaki. Beberapa papan pengumuman menyampaikan hal yang sama, bahwa daerah itu rawan longsor ketika hujan. Pernah dulu, menurut warga Takengon, jalan satu-satunya dari Biereun ke takengon itu tertutup tanah sehingga transportasi sama sekali terputus. Penduduk harus pergi ke Medan untuk mendapatkan kebutuhannya. Sampai sekarang pun, jalan itu masih rawan akan longsor. Belum lagi, jalan tidak mulus, banyak ditemui lubang-lubang besar mematikan. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang.

Memasuki KM 40 dari Biereun (jarak Biereun-Takengon 101 KM), posisi bisa dikatakan sudah di atas gunung, pohon cemara di kanan kiri absen tanpa henti. Kadang terlihat gubuk-gubuk kecil beratapkan dedaunan kering. Atapnya cukup panjang ke bawah, kira-kira sampai setinggi bahu orang dewasa, jadi, harus menunduk untuk memasuki gubuk kecil itu. Di dalamnya tidak besar, mungkin hanya muat untuk dua orang. Sepertinya tempat ini di set untuk tempat orang pacaran.

Hati-hati berjalan menuju Takengon di malam hari, karena tidak ada lampu di puluhan kilometer jalan itu. Lampu hanya terlihat di beberapa desa yang dilewati saja. Selebihnya hutan yang tidak memiliki cahaya. Semakin masuk ke hutan, udara semakin sejuk.

Kalau beruntung, kita akan menemui penjual air aren di pinggir jalan. Penduduk sekitar yang berjualan sudah menyiapkan gelas dan sedikit tempat duduk dari potongan kayu yang dibersihkan seadanya. Satu bungkus air aren dijual dengan harga 5 ribu. Kira-kira isinya 1 liter. Segar sekali.

Mencapai Takengon, ada satu hotel yang sangat terkenal di daerah ini, Renggali namanya. Hotel ini adalah satu-satunya hotel yang ada di pinggir danau Lut Tawar. Pengelolaannya sudah cukup professional. Harganya juga ikut-ikutan professional. Untuk standard room dihargai 250 ribu, deluxe 350 ribu, dan suite 550 ribu. Indah sekali view dari hotel ini. Beberapa kamar menghadap langsung ke danau. Pantulan bulan terlihat sempurna di danau. Ada beberapa cercah cahaya yang mondar-mandir di danau pada malam hari. Kalau dilihat lebih teliti, itu adalah cahaya dari lampu nelayan sekitar yang mencari ikan khas Takengon.

Di pagi harinya, silakan mengejar sunrise, karena cahaya oranye bercampur kuning dan merah di langit pasti akan membuat Anda terpesona. Namun, jangan coba-coba berenang atau bermain-main air danau karena hal tersebut cukup dilarang keras. Menurut penduduk sekitar, ada Peutri Ijo, sesosok makhluk yang menjaga danau tersebut yang selalu meminta korban di setiap tahunnya. Kebanyakan korbannya adalah pendatang.

Budgeting Takengon Trip (dari Banda):

L300 Banda Aceh-Takengon 80.000

Makan 5 kali 50.000

Standard Room Hotel renggali 250.000

L300 Takengon-Banda 80.000

Total 460.000


Aksi

Information

3 responses

22 12 2009
Roni

Mas Di edit ya, Takengon itu Ibukota Kabupaten dari Aceh Tengah, bukan ibukota kecamatan dr kabupaten Aceh tamiang ^__^

23 12 2009
iyra

Bireun..bukan Biereun klo ga salah. Jalannya suka rusak soalnya banyak truk lewat bwat ngambil kayu. Dulu sih airnya jernihhhh banget, bahkan yang di selokan, bisa dipakai bwat nyuci kaki sangking jernihnya.

6 01 2010
Iqbal

@Roni: oke mas, tks diingatkan…=)

@Iyra: kata saudara saya yg kerja di sana, Biereun kok… wah, hebat jg yah bisa sampe segitunya, mungkin karena di pegunungan kali ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: