Road To Onrust

17 12 2009

by Jeremy Gemarista

19 Juli 2009 (21.30) (Laptop Rumah, Bogor)

Sabtu pagi itu (18 Juli 2009), pukul 08.30. Kami duduk di tangga Citraland Mall (Jakarta Barat), menunggu dibukanya Hero dari dalam sana. Rencana berangkatnya 6 orang tim survey ezine ‘Backpacker Indonesia’ untuk membawa teman-teman tim ezine, ke P. Onrust. Untuk mematangkan konsep dan tim ezine. Walau ternyata yang berangkat akhirnya kurang dari jumlah yang direncanakan.

Selesai berbelanja kami berjalan ke depan, menunggu Kopaja 88 (arah Kalideres) yang akan membawa kami ke Pasar Cengkareng. Perjalanan singkat itu dan jalanan yang kulihat membuatku berpikir, “Wow, Jakarta luas juga ya. 7 tahun aku di kota ini, dan baru sekarang lewat jalan ini”. 20 menit kami lalui dan turunlah kami di depan Pasar Cengkareng, tepat di depan pangkalan ojek.

Ada nasihat dari seorang backpacker, “Pasanglah senyum dan sapalah warga sekitar”. Saran yang bagus, tetapi ada tambahan saran dariku, “Hal itu tidak berlaku bagi tukang ojek”. Pada awalnya aku sok bersikap ramah dengan bertanya dan menjawab pertanyaan para tukang ojek tersebut. Tindakan yang salah, karena mereka akhirnya terus mengikuti dan setengah memaksaku untuk naik ojek mereka, ke tempat yang hanya butuh satu menit berjalan kaki.

Setelah bertanya di sebuah warung, akhirnya kami menemukan lokasi omprengan menuju Muara Kamal yang terletak di seberang jalan bawah flyover (Omprengan Rp. 5000/orang). Setengah jam perjalanan dan tibalah kami di pasar ikan Muara Kamal. Langkah awal yang kami lakukan adalah mencari informasi tentang kapal yang akan membawa kami ke P. Onrust, salah satu proses yang perlu diperhatikan oleh kawan-kawan yang baru pertama kali pergi ke sana.

Kami bertanya pada seorang ibu tukang warung dan kami diarahkan pada tempat penyewaan kapal yang menawarkan jasa antar jemput sebesar 250.000 per kapal dan itu bukanlah yang terakhir kali. Karena jumlah kami pada waktu itu di bawah 5 orang, bisa dibayangkan berapa jumlah yang harus kami bayarkan. Dan sepertinya tidak ada yang akan memberitahu kalau kita bisa menumpang kapal nelayan menuju ke sana dengan ongkos Rp. 10.000/orang sekali jalan. Siang itu pukul 12 dan kapal nelayan akan berangkat pukul 3 sore. Akhirnya kami hinggap di warung bakso untuk menunggu waktu pelayaran.

Setengah jam waktu pelayaran menuju Pulau Onrust telah selesai. Sekarang aku terlentang di tepi pelabuhan merasa mabuk laut. Setelah lima menit perasaanku mulai tenang, kami pun pergi menuju tiket loket. Pak Tukiman, salah seorang penunggu pulau ini memberikan semua informasi yang kami butuhkan untuk membawa sekitar 20-30 orang ke tempat ini.

Pulau yang sepi dan terkesan ditinggalkan. Mungkin karena di sekeliling pulau terdapat gedung –gedung tua kosong ataupun pondasi peninggalan Belanda. Tetapi ternyata rasa sepi itulah yang membuat pulau ini sangat menarik hatiku. Malam hari kami membaringkan tubuh di depan tenda tepi pantai. Hanya beralaskan ponco, memandang langit, melihat para nelayan yang sedang mempersiapkan alat mereka, dan berbicara tentang apa saja. Sehingga tak terasa bahwa waktu telah bergerak ke arah jam 2 pagi.

Pagi hari dengan perasaan yang malas tapi tidak lelah, kami terbangun. Berjalan mengitari jalan yang berbatu dengan langkah yang sangat lambat. Duduk di pinggir pelabuhan, melihat laut, merasakan angin, dan kembali membaringkan tubuh. Waktu serasa berlalu dengan amat lambat di tempat ini. Pikiranku pun amatlah tenang walaupun banyak sekali yang kupikirkan. Rasanya ingin sekali bermalam satu hari lagi saja.

Minggu, pukul 12 siang kami kembali menumpang sebuah kapal nelayan menuju Muara Kamal. Dengan ucapan terima kasih kepada sebuah pulau yang telah mengembalikan kedamaian di hatiku.

……………………………………………………………………

…………………………

Sebuah percakapan dengan seorang teman, ketika kami sedang dalam perjalanan pulang dari Muara Kamal di dalam mobil omprengan.

“Kayak ngeliat jalan di flash back ya Jer”,

“Hmmm.. maksudnya?”

“Kayak waktu Sabtu kemaren mau ke Kamal cuma di rewind”

“Iya ya, kayak waktu kemaren cuma dengan perasaan yang berbeda”

“Yup, perasaan yang lebih lega, tenang, dan tanpa keraguan”

……………………………………………………


Aksi

Information

6 responses

22 12 2009
Rheedya Orange

Hmm.. buka puasa pertama Ramadhan tahun ini.🙂

22 12 2009
eka

Huhahah.. nggk ngajak. huh!!! penginnn…!!! *ngarap mode:on

29 12 2009
Redaksi Ezine BI

@rheedya: pengalaman tak terlupakan ya..
@eka: waktu itu udah kita publish di DB BI group kok😀 ayo ajak temen2 aja kesana. murah dan gampang🙂

30 12 2009
mey

kapan ksana lg? murahnya brapa ya? pengin ikut..

30 12 2009
eka

Aku nggk ikut groupnya😦

invite dongg….!!!😀

4 01 2010
Jeremy

Mei: Seinget gw kemaren gak lebih dari 100rb deh… Mau cari tempat laen ah bosen kesitu melulu🙂

Eka: Coba ikut aja lewat fan page Backpackin’ Emagazine di FB. Di situ ada link grup Backpacker Indonesianya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: