MATARMAJAGENIK.

25 12 2009

Oleh : Sri Anindiaty Nursastri

namanya Matarmaja.

luarnya berkisar antara besi dan baja. dilapisi warna biru dan oranye yang menyala.
Matarmaja adalah pelintas pulau Jawa. Namanya adalah akronim dari Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta.

status ekonominya sangat terasa. tempat duduk berjejer tiga-dua.
tak melulu ada nomor kursi di tiketnya. yang tak kebagian tempat duduk dihadapi tiga pilihan : mengampar di lantai, berdiri di dekat pintu agar masuk angin, atau merangsek duduk berempat di tempat duduk (yang harusnya) bertiga.

gelagat premanisme jelas adanya. premanisme yang mengatasnamakan kebersihan.
mereka tahu saja kenyataan bahwa yang takut yang menunduk. maka dicoleklah yang menunduk itu. yang dicolek-colek makin menunduk. yang mencolek makin girang.

yang mengamen mulai dari satu orang, dua orang, hingga satu grup kumplit dengan gitar-harmonika-alat tabuh, dan kecrekan.
mulai dari laki-laki, wanita, hingga banci berkebaya.
mulai dari meminta, memaksa, hingga (kembali) mencolek-colek.

Matarmaja adalah pengalah. jangan kira mesinnya rusak atau mati di tengah jalan.
itu adalah sikap budi luhur sang Matarmaja : mengalah dengan sebangsanya yang yang memiliki derajat lebih tinggi. bisnis dan eksekutif.
layaknya bawahan menunduk pada atasan. layaknya pembantu pada majikan.

Matarmaja adalah tempat di mana kepala penumpangnya terantuk-antuk ke depan karena kursi yang tak nyaman untuk tidur bersandar. Ketika bangun, Matarmaja adalah tempat di mana penumpangnya kepanasan dan mencari kipas, lalu merangsek tidur kembali dengan posisi berbeda.
Matarmaja adalah surga para penjaja. mulai dari makanan, buku, boneka, mainan, kipas, VCD bajakan, sampai alat pijat. penjaja pop mie dan kopi adalah penguasa. berbekal air termos dan gelas plastik, mereka siaga merobek bungkus kopi dan membuang bekasnya di lantai kereta.

Matarmaja adalah lawan dari kesehatan, di mana penumpangnya suka cita menahan haus agar tak perlu kencing di WC yang baunya tak terkalahkan.
di mana penumpangnya mencerna makanan yang entah bersih atau tidak,
di mana asap rokok bertebaran layaknya kabut di langit-langit kereta.

Matarmaja adalah penguji kesabaran, di mana para penumpangnya berusaha tidak menggubris segala kebisingan dan kebauan di dalamnya. bertahan selama 18 jam.
tempat di mana sebum bertumpuk di muka para penumpangnya, serasi dengan keringat yang membasahi badan.

Matarmaja adalah rintangan, di mana penumpangnya menghela nafas panjang ketika menginjakkan kaki di tempat tujuan. merasa puas.


Aksi

Information

15 responses

27 12 2009
Iqbal

Matarmaja adalah gambaran Indonesia yg sesungguhnya…

28 12 2009
bocipalz

matarmaja?
nggak dech.. cukuplah penderitaan dengan Gaya Baru Malam.

28 12 2009
IrsyaD

Separah itukah..?? Hmmmmmm……Bisa dimarahin bunda klo naik kereta kaya gitu….huahahahaha Paling enak emang naik motor, gak bakalan ada pengamen, pedagang, tukang palak….yg jelas ada kesamaan atara naik kereta “matarmaja” dangan naik motor…yaitu sama” gak bisa tidur…wakakakakakaka

30 12 2009
mey

hahahaha, sangat menyenangkan… keadaan itu masih d tambah dengan kehilangan ransel waktu naik entah itu logawa ato progo. ekonomi ekonomi… sempet trauma dan bertekad tuk berhenti bergabung dengan umat-umat di kereta ekonomi, tapi godaannya begitu kuat dan kembalilah saya berdekatan dengan gaya baru malam selama 10 jam. fiuhhh

30 12 2009
bocipalz

salut untuk pengembara matarmaja…
rasa2nya ini lah jalur kereta yang paling jauh (CMIIW)
18 jam.. lebih dari 18 bukan?

@mey
godaan iman atau amin nih?
hihhhihihihih…

31 12 2009
Redaksi Ezine BI

@bocipalz : harus merasakan naik Matarmaja, hehe..
tapi gaya baru malam juga cukup menderita sih. hehehe😛

@irsyad : dan sama-sama kena angin gelebuk, hehe!

@mey : hilang ransel? wah parah banget..

thanks ya semuanya udah komentar!😀

31 12 2009
bocipalz

sorry boss.. gak tertarik untuk naik matarmaja (lagi)..

1 01 2010
Bravo

Masa2 kuliah..
masa2 prihatin..
masa2 cinlok..
masa2 pacaran..
masa2 indah dilalui dengan matarmaja
Like this bgt laaah pokokny._
^_^

1 01 2010
Bravo Aldito

lho??? namanya kok sama mas??
saya juga naik matarmaja terus,, tapi gk pernah cinlok2an..
huhuhuhu T_T

2 01 2010
Redaksi Ezine BI

@ Bravo (wah ada kembarannya, hehe) : loh di Matarmaja kok cinlok?😛😛

thanks atas komentarnya🙂

2 01 2010
joki

Matramaja….
tiket yang murah, 51000 rupiah saja
harus dibayar dengan ketidak nyamanan selama -+ 18 jam….
yang kopi, popmie kopi jahe hangat
hahhahha

4 01 2010
kobo

4 jempol buat sastri……keren bgt artikel nya…

sekali-sekali bolehdong nyobain gaya traveller…

pasti ketagihan

6 01 2010
Redaksi Ezine BI

dari sastri.

@kobo : hehe. nanti ya kalo punya banyak uang pasti nyobain travelling ;P

6 01 2010
Paksi

hahahahaha…..keren2……next time gw pgen ikutan boleh tak??? pgen rasain jdi real backpackers…..coz selama ini gw ke lapangan cuma buat kulap (kuliah lapangan) doank……boleh lah klo jalan2 gni….bisa menambah rasa nasionalis coy hahaha……

20 01 2011
heri

Malang..kotaku dibesarkan..sejuta asa dan impian terajut mengikuti pertumbuhanku. Bicara Malang..ya Matarmaja…kereta besi ini walau tak nyaman bagi sebagian orang, bagiku dia sangat teristimewa.
Matarmaja menyimpan kenangan sejak kupertama kali ( 20thn yg lalu ) duduk disalah satu gerbongnya hingga saat ini. Perkembangan si Matarmaja, aku tahu persis, sampai si cepat didatangkan, GAJAYANA.
Namun tetap saja..aku setia menduduki Matarmajaku, yach walau cukup uang untuk beli ticket GAJAYANA. Kalaupun aku jadi Trilyuner..kubeli dan kusimpan Matarmaja digarasi rumahku.
Biar si Matarmaja dapat mengisi hari tuanya ditangan orang – orang yang mau peduli dan sayang kepadanya. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: