Tanpa Hutan,Suku Talang Mamak Kehilangan Sumur Kehidupannya

16 02 2010

oleh Rininta Meyftanoria

Suku Talang Mamak

Pernahkah teman-teman mendengar tentangs Suku Talang Mamak yang tinggal di pedalaman Riau? Ya, di Indonesia tersembunyi berbagai macam suku anak dalam yang tidak tersorot oleh mata publik. Namun tidak ada yang pernah menyangka, ada suatu kehidupan dengan tradisi tua telah bersemayam selama beratus-ratus tahun di dalam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Berjarak sekitar dua ratus delapan puluh kilo meter dari Pekanbaru, dapat kita temui tradisi tua dalam balutan suku anak dalam Riau, yaitu Suku Tuha, yang biasa disebut Suku Talang Mamak.

Suku Talang Mamak ini hidup berkelompok di Dusun Tuo Datai, yang terletak di Hulu Sungai Gansal dan Sungai Melenai Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Barisan bukit dan lembah diselingi oleh sungai-sungai yang mengalir indah: menguras stamina pengunjung yang akan singgah di Dusun Tuo Datai ini. Meski demikian, keelokan bukit barisan yang menyimpan energi kehidupan ini mampu ”membius” imaji pengunjungnya.

Identitas kesukuan Talang Mamak ini terbagi atas kepercayaan atau agama yang dipeluk masyarakat Talang Mamak. Mereka memiliki dua identitas kesukuan, yaitu Suku Langkah Lama dan Suku Melayu. Masyarakat Talang Mamak yang masih percaya dengan kekuatan gaib di sekitarnya (animisme)dan memeluk agama Katolik sinkritis menyebut diri mereka sebagai orang ”Langkah Lama”  atau orang adat, sedangkan masyarakat yang memeluk agama Islam disebut Suku Melayu. Rambut panjang, baju dari kulit binatang, dan bergigi hitam garang masih mendominasi penampilan wanita dan anak perempuan Suku Talang Mamak. Hampir serupa dengan para wanita, pria dan anak laki-laki Suku Talang Mamak memakai baju dari kulit binatang, bergigi hitam garang dan memakai sorban atau songkok di kepalanya. Untuk penerimaan budaya luar, Suku Langkah Lama cenderung menolak dan memandang adatlah yang utama. Meski demikian mereka tetap ramah terhadap orang-orang yang berkunjung ke dalam TNBT. Berbeda dengan Suku Langkah Lama, Suku Melayu berpandangan lebih terbuka mengenai budaya luar dan sudah mulai mengurangi tradisi leluhur, yang masih mempercayai kekuatan gaib di alam (animisme). Mereka terkenal jujur dan cenderung menghindari konflik dengan pergi ke dalam hutan untuk menenangkan diri.

Gawai (pesta perkawinan)

Kehidupan Suku Anak Dalam Riau ini tidak lepas dari tradisi kuno yang sudah mendarah daging dari leluhur mereka. Tradisi kuno ini berisikan upacara-upacara adat, seperti Gawai (pesta pernikahan), Kemantan (pengobatan penyakit), Tambat Kubur (acara 100 hari kematian dan memperbaiki kuburan untuk peningkatan status sosial), acara khitanan, upacara melahirkan dengan bantuan dukun, upacara timbang bayi, dan upacara beranggul (tradisi menghibur orang yang kemalangan). Upacara adat kurang lengkap tanpa adanya iringan musik tradisional, seperti gendang, gambus, dan ketebung, serta berbagai jenis tarian tradisional yang meliputi tari balai terbang dan tari bulian. Suku Talang Mamak percaya bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan upacara tradisional. Ada satu hal yang belum dibahas di sini dan membuat teman-teman penasaran. Bagaimanakah kondisi bangunan yang digunakan orang-orang Suku Talang Mamak sebagai rumah? Rumah tradisional mereka adalah rumah panggung, yang terbentk dari bangunan kayu. Dalam rumah panggung ini, tidak ada sekat untuk ruangan sehingga semua ruangan adalah satu dan semua barang disatukan disana, baik barang-barang dapur, barang pribadi maupun barang untuk tamu.

Rumah Panggung Suku Talang Mamak

Pernahkah teman-teman melihat film Avatar? Di film tersebut, Suku Avatar sangat mempercayai adanya energi yang tersimpan di setiap pohon dalam Hutan Keramat. Begitupula dengan masyarakat Talang Mamak. Mereka masih sangat percaya pada kekuatan alam, terutama Hutan Keramat. Pohon-pohon di Hutan Keramat dipercayai sebagai sumur kehidupan yang menyimpan semua energi dari alam. Kehidupan, pencarian makanan, pencarian obat-obatan dan pengobatan, pengampunan dosa, dan pemakaman berpusat di Hutan Keramat. Selain itu, tidak semua orang dapat memasuki kawasan Hutan Keramat, terutama makam para leluhur. Mereka harus mendapatkan izin dari juru kunci makam Suku Talang Mamak. Makam ini terletak tepat di antara dua kawasan hutan belukar Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Kawasan Lindung Bukit Betabuh. Kompleks makamnya hanya berupa hutan belantara. Bentuk makam tersebut dibuat bertingkat dengan dasar Hang ditutup bambu, tiang kayu berwarna hitam, dan dikelilingi balai. Menurut kepercayaan, Suku Talang Mamak tidak dapat hidup dan mempunyai tempat di dunia dan di akhirat tanpa hutan tersebut. Jadi, mereka percaya bahwa mereka hanya bisa dimakamkan di dalam Hutan Keramat.

Masyarakat Talang Mamak sangat menjaga amanah nenek moyang: menjaga hutan. Eksistensi hutan dapat memberi kehidupan bagi Masyarakat Talang Mamak. Namun, sekarang ini eksistensi hutan mulai terancam. Para perusahaan HPH melakukan pembabatan hutan dan para imigran dalam program transmigrasi membuka ladang baru. Kondisi ini mulai menggeser eksistensi Suku Talang Mamak yang sudah beratus-ratus tinggal di sana. Meski demikian, Suku Talang Mamak yang dipimpin oleh Patih Laman terus berjuang mempertahankan hutannya. Ia menolak semua pembangunan dan perusahaan, bahkan rela ”menggadang” nyawa untuk mempertahankan Hutan Keramat. Atas perjuangannya mempertahankan Hutan Keramat, Patih Laman dianugerahi penghargaan Internasional, yaitu ”WWF International Award for Conservation Merit 1999” dari tingkat grass root. Selain itu, Patih Laman juga menyandang penghargaan KALPATARU dari Presiden Republik Indonesia (RI).

Suku Talang Mamak memang tidak seperti masyarakat modern di perkotaan yang menggunakan teknologi canggih dan berpendidikan. Meski ”gagap” teknologi dan buta huruf, Suku Talang Mamak merupakan guru yang sangat baik di bidang etnobotani, etnozoologi, budaya dan sistem pertanian. Mereka mengenal banyak tentang obat-obatan tradisional dan mampu memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan 22 jenis cendawan obat (Biota Medika, 1998). Begitu pula dengan Suku Melayu, yang mampu memanfaatkan 182 jenis tumbuhan obat untuk 45 jenis penyakit dan 8 jenis cendawan obat. Pengetahuan dan kemampuan tersebut didapatkan dari pengalaman dan ilmu-ilmu yang dimiliki oleh leluhur Talang Mamak. Selain itu, ciri khas Suku Talang Mamak adalah nomaden (berpindah tempat). Mereka berpindah tempat untuk membuka ladang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak lupa mereka selingi dengan bertanam karet (untuk menyadap karet) dan mencari hasil hutan seperti jernang, rotan, labi-labi, kemudian menangkap ikan untuk sumber protein.

Sebagai anak Indonesia, kenalilah dulu nenek moyangmu dari suku-suku anak dalam yang ada di seluruh pelosok Indonesia. Dengan begitu, kita akan mencintai Indonesia seutuhnya.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Talang_Mamak

http://mamas86.wordpress.com/prop-jambi/suku-talang-mamak/


Aksi

Information

3 responses

17 02 2010
Haryo Bimo Suryaningprang

wahhh… tidak berbeda jauh dengan Suku Anak Dalam yang ada di Jambi yah.. Suku-suku yang berada di pedalaman Indonesia saat ini memang semakin tersingkir dengan maraknya eksploitasi sumber daya alam oleh pihak-pihak tertentu. Semoga pribadi seperti Patih Laman terus bermunculan di masa depan demi mempertahankan eksistensi budaya dan alam yang ada di Indonesia. Thanks buat Rininta yang udah share tentang kondisi salah satu suku yang ada di Indonesia..

“… We smile to INDONESIA, then INDONESIA will smile to you …”

6 03 2010
rininta meyftanoria

terima kasih obi..kalau ada info ttg suku anak dalam lainnya mau juga dunks..mungkin bisa di share ke kita-kita..

14 03 2010
Andro

Di garut selatan ada kampung adat rin..Namanya kampung dukuh, Emang bukan suku anak dalam/rimba tapi adatnya menarik rin, tapi gw blm k sana, jauh euy mst pk mtor trail

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: