Getaway from Urban Life: Ujung Genteng

16 03 2010

by Yanita Rikasari Atmadjasutisna

Tinggalkan sejenak semua rutinitas membosankan di kota besar. Selamat datang di surga kecil bernama Ujung Genteng. Menikmati pagi dengan percikan air di Curug Cikaso, siang dengan makan ikan bakar di dekat dermaga tua, sore dengan keindahan sunset di muara Cipanarikan, dan malam ditutup dengan melihat penyu bertelur di pantai Pangumbahan. Suatu rangkaian perjalanan yang akan memberi kesan tersendiri dalam hati.

Ujung Genteng terletak di bagian selatan Kabupaten Sukabumi. Daerah ini berbentuk semenanjung dengan garis pantai yang berlanjut dari sisi timur hingga barat. Sebagai akses utama menuju Ujung Genteng, kota Sukabumi dapat dicapai dengan bus ekonomi/AC dari terminal-terminal besar Jakarta (Kp.Rambutan, Lebak Bulus, Pulogadung, dan Kalideres), Bandung (Leuwipanjang) ataupun kereta dari Bogor. Waktu tempuh Jakarta/Bandung-Sukabumi sekitar 3-4 jam. Dari Sukabumi dapat dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Desa Surade. Selanjutnya dari Surade menuju Ujung Genteng hanya ada ojek, terbayang mahal dan repotnya bila harus menyewa ojek itu seharian untuk berkeliling di semua tempat di Ujung Genteng. Alternatif lain yaitu menyewa kendaraan atau membawa kendaraan pribadi. Rute perjalanan darat yang ditempuh dari Sukabumi adalah Cikembar- Jampang Tengah- Lengkong- Jampang Kulon- Surade- Ujung Genteng. Jalanan yang dilewati berkelok-kelok dan ada beberapa bagian jalan yang berbatasan langsung dengan tebing. Jadi, harap berhati-hati terutama jika mengemudikan mobil saat malam hari.

Obyek wisata yang pertama dikunjungi adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso terletak dekat kota Surade, sebelum masuk kawasan Ujung Genteng. Apabila berangkat dengan mobil dari Sukabumi pkl 21.00 maka akan sampai di lokasi curug sekitar pkl 02.00. Sambil menunggu pagi, bisa bermalam di mobil atau menumpang di rumah penduduk sekitar curug. Keesokan harinya pkl 06.00, dimulailah perjalanan ke curug dengan menyewa perahu mesin seharga Rp.50.000,- pp. Pemandangan selama di perahu sangat indah, terlihat tebing hijau mengelilingi sungai, tapi sayangnya hanya sebentar. Setelah lima menit, perahu menepi dan dilanjutkan dengan jalan kaki selama lima menit lagi. Memang termasuk mahal biaya sewa perahunya, tapi mau tidak mau curug ini sudah menjadi salah satu sumber penghasilan utama penduduk disekitarnya.

Saat saya berkunjung di bulan Januari, Curug Cikaso volume airnya tumpah ruah dan sangat deras. Sekadar info, jika ingin berkunjung ke obyek wisata air terjun sebaiknya ketika musim hujan daripada rugi sudah datang dari jauh ternyata airnya lagi mengering. Curug Cikaso terdiri dari jajaran tiga air terjun besar setinggi kurang lebih 20 meter disertai dengan beberapa air terjun kecil. Terkadang muncul pelangi melengkapi keindahan ketiga curug. Spektrum aneka warna itu benar-benar memanjakan mata yang beruntung melihatnya. Setelah puas melihat dan mengambil gambar, sarapan mie goreng plus telor asin di warung dekat curug akan sangat menyenangkan.

Sekitar pkl 09.00 perjalanan dilanjutkan menuju pantai Amanda Ratu, masih dalam satu jalur menuju kawasan Ujung Genteng. Menyusuri jalanan yang dikelilingi pohon kelapa, jangan sampai mobil terlewat melihat papan bertuliskan Villa Amanda Ratu. Tidak perlu khawatir harus jadi tamu di tempat tersebut, pengunjung umum pun diperbolehkan secara gratis untuk melihat pantai dengan karang yang dari kejauhan terlihat seperti Tanah Lot di Bali ini. Jika datang ketika air laut surut, pengunjung bisa berjalan mendekati karang tersebut.

Sesampainya di kawasan Ujung Genteng sekitar pkl 13.00, ada pungutan biaya masuk sebesar Rp.5000,-/mobil dan Rp.2000,-/orang. Lokasi yang pertama kali terlihat adalah dermaga tua peninggalan Belanda dan tempat pelelangan ikan. Walaupun sudah mulai terlihat geliat tempat wisata di Ujung Genteng, namun sebagian besar penduduknya masih hidup dalam kesederhanaan sebagai nelayan. Terdapat beberapa rumah makan yang menyediakan lauk utama ikan bakar. Pengunjung dapat memilih sendiri berbagai macam ikan laut segar dengan variasi harga antara Rp.50.000-Rp.60.000,-/kg tergantung jenis ikannya dan keahlian menawar. Jangan lupa memesan sambal cobek dan sambal kecap, dijamin makan ikannya pasti nambah.

Setelah ishoma, perjalanan dilanjutkan untuk melihat sunset di muara Cipanarikan. Pastikan kondisi mobil yang dipakai dalam keadaan bagus, karena jalan menuju tempat ini hampir tidak layak dilewati, bahkan boleh dikatakan semi off-road.  Tidak ada pos penjagaan di dekat muara. Mobil akan diparkir di halaman sebuah pondok kosong dalam hutan. Jadi, cuma ada dua pilihan jika datang ke muara Cipanarikan, meninggalkan mobil tanpa penjaga di tengah hutan atau menyewa orang dari desa terdekat untuk menunggui mobil. Dari tempat parkir mobil menuju muara harus berjalan kaki selama 10 menit. Disepanjang jalur akan terlihat sarang kepiting merah. Sesekali terlihat beberapa kepiting berlalu lalang, ada pula yang mengintip malu-malu dari sarang. Namun, jangan coba menangkapnya untuk dimasak, karena kepitingnya beracun.

Sesuai namanya, muara Cipanarikan adalah daerah pertemuan antara sungai Cipanarikan dan Samudera Hindia. Di sisi utara sungai terlihat deretan pohon kelapa dan beberapa kerbau sedang menikmati rerumputan segar. Sedangkan, di sisi selatan terlihat pasir putih halus disertai deburan ombak. Sungguh sebuah tempat yang tepat untuk meresapi keindahan ciptaan Tuhan.

Daya tarik utama Ujung Genteng adalah pusat pelestarian penyu di pantai Pangumbahan. Setiap hari, pengunjung diberi kesempatan untuk mengikuti acara pelepasan tukik (anak penyu) ketika siang hari dan melihat proses penyu bertelur yang akan dimulai sekitar jam 9 malam hingga dini hari. Biaya yang dipungut sebesar Rp.5000,-/orang. Sambil menunggu waktu melihat penyu bertelur, pengunjung bisa bercengkrama dengan sesama pengunjung lain di sebuah rumah kecil di dalam pusat pelestarian, atau bisa mampir sebentar ke daerah Cibuaya. Di Cibuaya terdapat MCK, mushola dan beberapa warung makan. Salah satu makanan di warung yang patut dicoba adalah sate khas Surade, sate bumbu kacang dengan potongan ayam yang masih ada tulangnya.

Semua pengorbanan menunggu menjadi tidak sia-sia ketika akhirnya bisa melihat sendiri ritual penyu-penyu dengan ukuran panjang antara 80-150 cm itu mengeluarkan puluhan telur bulat kecil berwarna putih lalu menutupnya dengan pasir. Penyu yang bertelur di pantai Pangumbahan sebagian besar adalah spesies penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu hijau termasuk salah satu jenis penyu yang dilindungi karena populasinya sudah jauh berkurang. Penyu baru bisa bertelur setelah mencapai usia 50 tahun. Dari puluhan telur yang ia keluarkan itu, hanya satu atau dua penyu yang akan bertahan hidup hingga usia yang mencukupi untuk bertelur di tempat yang sama ketika dia menetas. Siklus kehidupan itu telah berlangsung selama ribuan tahun, namun baru beberapa puluh tahun terakhir siklus tersebut terganggu karena tangan serakah manusia yang mencuri telur penyu dan membunuh penyu untuk diambil cangkangnya sebagai pajangan.

Sebaiknya jangan memotret dengan blitz dan terlalu berisik ketika penyu sedang bertelur. Hal itu akan membuat penyu yang sudah keletihan berenang jarak jauh tidak mau mengeluarkan telurnya. Penyu hanya menyukai tempat tenang dan sunyi dengan kondisi pasir tertentu untuk bertelur. Apabila ditawari telur penyu oleh penduduk setempat, tolak secara halus karena telur-telur tersebut dijual secara ilegal. Usaha sekecil apapun akan sangat berarti bagi kelestarian penyu di pantai Pangumbahan.

Have a nice trip😀


Aksi

Information

9 responses

16 03 2010
uda

keren sayang….

17 03 2010
Jeremy

Tulisan di dalam fotonya mengganggu bgt tuh,

Kereeeeennn tulisannya, jadi mau ke UG

17 03 2010
yane

wkwkwk..bener bgt tuh jer, tulisannya menganggu..
tp daripada fotografernya marah dan ga mau motoin lg pas jalan2..jd gpp lah.. :p

17 03 2010
uda

T.T

17 03 2010
eza

betull-betull… jalurnya yang berbelok2 paling gak bisa dilupain. Apalagi kalo naik elf sukabumi-surade. iidiihhh mengocok perut abizzz!!

17 03 2010
uda

nyetir sendiri lebiih mantap gan…
blon tau jalan n tempatnya… cuma bermodal peta…

2 04 2010
wendhy

kalo dari bandung berapa lama ??
naek motor bisa kan ??

6 04 2010
naira

nanya dong nanya,,
kalo dari jkt berapa jam???
jalannya gimana??baguus ga??berniat bawa jazz soalnya,,
trus tempat nginap disana berapa ya harganya??

pengeen bgt kesana,,,makasiih =)

8 03 2012
adrianfajriansyah

dahsyat… blognya keren banget.. infonya sangat luar biasa…

salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: