Menemukan Impian di Sancang (2)

12 04 2010

Oleh Praga Utama

bagian awal tulisan ini dapat dibaca disini

Dalam suatu kisah disebutkan, kawasan hutan lindung Sancang adalah tempat menghilangnya Prabu Siliwangi, raja Padjadjaran yang termahsyur. Pada suatu ketika Prabu Siliwangi berselisih dengan anaknya, Kian Santang, akibat masalah keyakinan. Prabu Siliwangi bersama pengikutnya melarikan diri dari kompleks kerajaan mereka di daerah Bogor ke Leuweung Sancang di Garut.

Di hutan inilah kemudian sang prabu merubah wujudnya (ngahyang) menjadi macan putih dan bersemayam di sana selamanya. Sementara para pengikutnya juga mewujud jadi harimau loreng. Nama Sancang sendiri berasal dari nama kerajaan kecil yang dipimpin saudara kandung Prabu Siliwangi. Kerajaan ini dahulu kala menguasai wilayah yang kini jadi hutan lindung tersebut.

Legenda Sancang serta Prabu Siliwangi yang ngahyang jadi macan putih, benar-benar diyakini masyarakat lokal terutama masyarakat adat Sancang, oleh karena itu mereka sangat menjaga kawasan hutan ini. Namun sayangnya, meski sudah ada legenda yang bikin tempat ini angker, dan statusnya yang ‘kawasan konservasi’ itu tidak membuat hutan dan pantainya bebas dari jamahan tangan-tangan rakus.

Aku melihat sendiri beberapa kayu gelondongan sisa illegal logging yang teronggok begitu saja di pinggir muara Cijeruk. Sementara kebutuhan perut warga yang semakin bertambah banyak membuat nelayan dan para petani rumput laut merambah pantainya dan mendirikan bangunan semi permanen di sana. Beruntung, kawasan ini tidak terlalu populer bagi wisatawan, sehingga sentuhan tangan manusia hampir tidak terasa di sana.

Menurut berita yang kubaca, perambahan hutan lindung Sancang telah merenggut keasriannya seluas 400 Ha lebih, di Hutan Sancang memang ada jenis kayu meranti merah yang terbilang langka dan harganya mahal. Sementara fauna khas Sancang seperti kerbau liar dan macan tutulnya dilaporkan sudah jarang ditemui. Sangat menyedihkan.

Kesakralan legenda hutan itu, keindahan alamnya, dan ‘pertunjukan’ alam di sana menimbulkan perasaan aneh di dalam hatiku selama menjelajahi pantainya. Di sana aku sempat memisahkan diri dari kawan-kawan lainnya. Aku berjalan melewati sebuah tanjung kecil dan melihat beting serta padang lamun berganti menjadi padang pasir yang luas.

Di padang pasir itu berkeliaran ratusan burung laut yang dengan damai berjalan-jalan, mematuki pasir, terbang rendah, menceburkan diri ke laut dan kembali membumbung dengan ikan di paruhnya. Beberapa kayu mati teronggok dan pohon bakau kerdil tumbuh di tengah-tengah oase itu.

Meski masih di pinggir pantai, tapi lautan berada sangat jauh, bahkan suara gemuruh ombak tak terdengar. Suasana di sana sangat sunyi dan tenang. Aku berjalan semakin ke tengah, ingin menyaksikan kehidupan burung liar lebih dekat. Burung-burung terbang menjauh waktu mendengar langkahku. Mereka terbang dengan formasi teratur yang sungguh menakjubkan.

Yang paling menarik, di ujung hamparan pasir itu ada sebuah kapal sejenis tugboat berukuran cukup besar yang karam. Kapal itu tampak sudah cukup lama karam di sana, itu terlihat dari tubuhnya yang berkarat. Waktu aku mencoba mendekat, ternyata lokasi antara kapal karam dengan padang pasir itu dipisahkan selat kecil dan tampak cukup dalam untuk diseberangi dengan jalan kaki, terlihat dari airnya yang biru pekat dan tenang.

Sambil menyaksikan semua keajaiban itu aku menikmati kesunyian dan kesendirian yang terasa. Di situlah momen ketika gerakan semu fatamorgana di atas hamparan pasir nan luas pasir akibat panas yang menguapkan air menyadarkanku: “Ini dia tempat yang sejak dulu kucari. Tempat yang selalu ada di dalam impianku, aku sudah menemukannya!”

Aku memang selalu mengidamkan suatu tempat lapang, dengan langit biru dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijau segar dari kerimbunan pepohonan, langit biru tua, awan putih, dan horizon yang tak terjangkau. Aku selalu merindukan kesendirian di tengah keleluasaan dan kebebasan. Aku menemukan itu semua di Sancang.

Setiap menemukan objek menarik aku berloncat-loncat kecil dengan gembira. Waktu aku duduk di atas kayu mati yang rupanya mirip kerangka dinosaurus, aku berteriak kencang, melepaskan segala rasa yang terpendam, burung-burung yang sedang mencari makan sampai kaget dibuatnya. Aku benar-benar sendiri dan menikmati momen itu. Meski begitu, alam liar tetaplah alam liar, dan terlepas dari mitos tentang Prabu Siliwangi yang menyelimuti Sancang, dari awal aku sudah membuat aturan sendiri: tak boleh lancang di Sancang (dan tempat lainnya tentu saja).

Setelah merasa cukup (meski sebenarnya tak puas hanya sebentar di sana) aku kembali ke tempat teman-temanku. Norman sudah berada di tengah hamparan beting, memancing. Aku segera membuka pakaian, tak memedulikan matahari yang menyengat dan bergabung dengannya. Norman hanya mendapatkan dua ekor ikan seukuran telapal tangan, tak tahu apa namanya.

Sambil menyaksikan Norman menunggu kailnya disambar ikan layur yang dia inginkan, aku berenang-renang di antara terumbu karang. Sesekali aku menyelam, dan membuka mata di dalam air. Meski perih aku tak peduli, aku ingin melihat kehidupan bawah air.

Seorang nelayan tradisional tiba-tiba muncul dari bawah air tak jauh darii hadapanku, dia membawa tombak panjang dan menggunakan masker snorkeling, di ujung tombaknya yang tajam seekor gurita berukuran sedang tampak menggeliat-geliat sekarat. Ikan-ikan kecil berwarna biru menyala, kuning terang, transparan, beraneka bentuk berlarian di sekitar kakiku. Bintang laut dan bulu babi dengan mudah dijumpai.

Waktu sedang asik melihat-lihat tiba-tiba ada ombak besar dan aku hampir terbawa arus. Reflek aku menggapai karang terdekat, dan tanganku terluka karenanya.

Meski setelah tiba di penginapan seharga 60 ribu semalam untuk bertiga di Santolo, aku menemukan tubuhku gosong, tanganku penuh luka, dan mataku merah berair karena terlalu bersemangat bermain—main di Sancang, tapi itu semua bukan suatu masalah buatku. Karena di dalam hati aku sudah merasa cukup.

Sancang adalah highlight di antara kekecewaan. Kekecewaan kibat menyaksikan pantai-pantai di Garut Selatan yang pada dasarnya sangat memesona, tapi dikelola dengan buruk hingga pesonanya pudar. Tapi perjalanan 3 hari dua malam ke sana adalah satu hal lain yang tak bisa kuceritakan dengan sederhana. Trek Bandung – Rancabuaya via Pangalengan dan Cisewu yang kami lalui dalam perjalanan pergi maupun pulang adalah keajaiban tersendiri.

Masih terbayang jelas, waktu petir pertama siang itu di Sancang menyadarkanku, matahari kalah perkasa oleh awan hujan. Suara menggelegar sang petir itu kuanggap alarm yang mengingatkan kalau sudah habis waktuku hari itu di Sancang. Belum juga berkemas, petir terus menggema bersahut-sahutan. Aku dan kawan-kawanku harus segera beranjak dari sana.

Begitu menginjakan kaki di atas getek yang melintasi muara Cijeruk, aku menoleh kebelakang, angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan. Buatku gerakan pepohonan seperti ‘lambaian tangan’ dari hutan Sancang buatku. Dalam hati aku berikrar untuk menyempatkan kembali lagi ke sana, Pantai dan Hutan Sancang.

Praga Utama (praga.utama@gmail.com)


Aksi

Information

23 responses

24 04 2010
krenz

mas mcan putih yang di pake perang dulu ma prabu siliwangi..

macan tutul betina putih..

ukuran’a besar???
hmz..

klo ga salh cmn da satu mcan punya prabusiliwangi yang suka di pake perang ma prabusiliwangi..

krang jga msh ada…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

25 04 2010
Praga

kalau yang saya baca dari beberapa literatur sih, justru prabu siliwanginya yang berubah jadi macan putih. sedangkan prajurit sang prabu berubah jadi harimau loreng, yang pola lorengnya beda dari jenis harimau lain. makanya spesies harimau di sancang beda. itu versi lain mungkin ya.

asal-usul harimau sancang kan cuma legenda. dan kebenaran sejarah prabu siliwangi juga belum terbukti.

krang masih ada? maksudnya sekarang masih ada? di mana?
ukuran’a besar? maksudnya ukurannya besar? wah saya ndak tau itu..

27 04 2010
Damar Dwiyadi Pratama

Oo.. Begitu ya! Saya baru tau! http://artikelmenarik.wordpress.com

8 05 2010
Menemukan Impian di Sancang (1) « BACKPACKIN' MAGAZINE

[…] lanjutan catatan perjalanan ke Sancang dapat dibaca disini […]

10 05 2010
Menemukan Impian di Sancang (1) | backpackinmagazine.com

[…] lanjutan catatan perjalanan ke Sancang dapat dibaca disini […]

25 05 2010
say...

bismillah…

of course…

terimakasih sudah maen ke tempat saya…..

indah, kan…

hmm.. saya juga menyesali kerusakan leuweung sancang itu..

pantainya masih bersih, kan…
what a beautiful….
jadi kangennn

5 08 2012
Alit

Krmin DÕooº°˚˚°ºnk alamatnya utk menuju kesana dan jika menggunakan angkutan umum tlng jelaskan rute tujuan angkutan umumnya. Mksh sblmnya

25 05 2010
say...

hmmmmm…..
good.. n_n

11 07 2010
Mohammad Sigit Sarjono

Sancang memang hutan legenda yang pernah saya dengar,,,, menakjubkan kelihatannya ….. sayang saya hanya baru nyampe sancang 1….sekitar Cibalong, katanya ada sancang 2 dan 3.

mudah-mudahan suatu saat saya dapat sampai ke sana ….. ingin lebih mengenal,,,karena nenek moyangku dulu berada sekitar wilayah ini……maklum aku hidup lahir dan dibesarkan di kota ….

Butuh jiwa petualangan untuk berani ke sana……. Sancang …I miss U…….
Terimakasih kepada penulis tentang Sancang ,,,, membuat semangatku tuk kesana…..

8 04 2011
reza

para agan semua… jadii ngiler neh pengen ke sana…. mohon diinpo jalur bis dari jakarta dan rute yg murah2 berikut penginapannya ..
hatur nuhun pisannn

10 06 2011
ruslibdg

legenda org garut beda sama org bogor🙂

dlm pantun bogor (seri ngahiyangna pajajaran) disebutkan saat pajajaran terdesak oleh serbuan 3 kerajaan islam (banten-cirebon-demak), prabu Siliwangi bersama keluarga dan pengiringnya mundur ke arah selatan/ sukabumi
tidak ada kasus perbedaan keyakinan antara prabu dgn putranya (Ki santang)
yg menganut islam adalah Ki Jaya Antea (slh satu menteri kerajaan) yg fisiknya memang mirip prabu anom (Ki santang)
prabu Siliwangi sendiri ngahiyang di hutan jampang (sukabumi)
prabu anom tinggal di kaki gn. halimun
putri bungsu purnama sari menetap di palabuhan ratu

29 10 2011
asep

sancang itu ada 9 dari 1 sampei 9 itu beda beda tempat saya dulu berada di sancang 9 di dalam goa tepatnya

12 11 2011
DeNi nta setia

It’s amazing…

Aq akan buat bhan prbandingan d skolahku…kyanya mnarik bnget….

29 03 2012
aceng mamun

sancang hanya patamorgana saja
rusak oleh tangan-tangan setan
keserakahan berbuah penjarahan hutan
habislah-habislah tanpa sisa
jantung sancang tinggal kenangan
hutan sancang hanya cerita duka
beratus-ratus tahun lamanya kokohnya hutan sancang kembali
mungkinkah….
hanya di tangan manusia yang punya hati nurani yang bisa

5 08 2012
Alit

Ane jd ngiler nih bozz, ingin berkunjung ke daerah sana. Tlng DÕooº°˚˚°ºnk krmkan alamat untuk menuju ke daerah sana. Mksh sblmnya bg yg memberikan alamatnya.

5 08 2012
Alit

Krmkan alamatnya DÕooº°˚˚°ºnk utk menuju ke daerah sana, jika dr terminal garut utk menuju sana ke arah mana Ɣª‎​ª‎​….

5 08 2012
Alit

Tlng krmkan alamatnya DÕooº°˚˚°ºnk utk menuju ke daerah sana & jika naik angkutan mobil umum tlng jelaskan arah turun dan naiknya mobil angkutan. Sy sngt tertarik ingin berkunjung ke daerah sana. Mksh sblmnya

21 10 2012
Ryu Kal El

kampung gw nihhh haahahahahaaa

24 05 2013
http://montgomerymag.com/archives/1234

Why visitors still use to read news papers when in this technological world all
is presented on net?

21 06 2013
Ujang rohman

aku dulu nyasar di sancang 7, yang ktnya serem bngt ntu
dari jam 11 malm sampe jm 03 pagi
muterin semua keramat yang ada d stu, aku juga nemuin b0tol fanta, mash uth mash ada isinya, aku bwa pulang,
hehe
aku juga mandi di air terjun kejayaan, sekitar jam stngah 12 an lah,
untung ea aku bisa pulang,
huft,

26 06 2013
ガガミラノ 中古

If you solve those questions, are generally just one procedure closer to very own ideal mens take a look at.

So, what does involves mean for as well
as me, the modest TV viewer? They are useful when it for you to
telling the day time. The people who design these scrutinize concentrate more with making
the watch look good along the wrist. http://www.
farhankhan.com/2010/08/kanye-wests-power-analysis/

27 06 2013
sohib sgp

sancang
dia di depanku sekarang
aku sendiri hampir tak percaya

2 09 2013
deny garsel

lembur kuring

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: