Cinta di Ceremai bersama SERGAP

12 06 2010

Oleh Ambar Arum

Pendakian kali ini aku lakukan bersama tim SERGAP. Tim yang baru aku dengar namanya beberapa minggu yang lalu dari seorang teman. SERGAP, nama yang aneh, atau malah lucu karena mengingatkan semua orang pada salah satu program berita kriminal di televisi. Bayangan awalku tentang para anggotanya kurang lebih begini: tipikal serius, wajahnya datar dan kaku, badan tegap, pokoknya macam para polisi atau pejabat militer pada umumnya. Tapi semua imajinasi itu runtuh tak berbekas…

 

Karena ternyata mereka seru, imut dan lucu-lucu…🙂

Kamis, 27 Mei 2008. pk. 20.30

Sampai di terminal Kampung Rambutan, baru ada dua orang: Iqbal dan Ashar (black ninin), agak kaget karena kupikir aku telat, mengingat jadwal kumpul jam 20.00, tapi ternyata teman-teman sudah berkumpul di ujung lain terminal.

Perjalanan pun dimulai sekitar pk 10.00  menggunakan bus jurusan Jakarta – Kuningan. Mulai dari mesin dinyalakan, sampai tiba di Linggarjati, kami ditemani musik kencang selama perjalanan, seakan memaksa kami para penumpang untuk tetap melek, menemani si sopir. Ditambah dengan posisi dudukku yang cuma dapat bagian setengah pantat, maka gagallah harapanku untuk dapat tidur malam itu.

Jumat, 28 Mei 2008. pk 06.00

Kamipun sampai di Linggarjati sekitar pk 06.00. Setelah beres-beres, makan, sambil menunggu tim berikutnya datang, dimulailah briefing. Anggota tim SERGAP kali ini 27 orang, jumlah yang termasuk banyak untuk sebuah pendakian. Maka kami dibagi menjadi 3 tim, dan aku masuk dalam tim 2. Kami mulai menanjak kurang lebih  pk 10.00

Seiring perjalanan, pembagian tim mulai berantakan. Terjadi banyak transfer pemain dari tim satu ke tim dua, tim dua ke tim satu, tim tiga ke tim satu, dan seterusnya.

Sekitar jam 12.00 kami berhenti untuk makan siang dan sholat. Barangkali aku masih norak, namun aku sangat kagum dan bangga dengan teman-teman tim SERGAP, yang tidak lupa menjalankan kewajiban sholatnya, meski sedang berada di alam terbuka. Ini bukan pemandangan yang biasa kulihat, mungkin karena aku masih sangat jarang naik gunung, dan aku seorang nasrani.

Perjalanan diteruskan. Dalam pendakian kali ini tim SERGAP juga melakukan pemasangan papan jalur di semua pos yang dilewati dari jalur Linggarjati, mulai dari pos Cibunar, hingga pos Pengasinan. Pemasangan dilakukan oleh Mas Arief dibantu dengan Mas Ahmad.

 

Menurut target, diharapkan kami sampai di pos Pengasinan pk 18.00 , kemudian bermalam disana dan berangkat menuju puncak pk 03.00 keesokan harinya. Namun matahari pun bosan menunggu kami sampai di pos Pengasinan, bahkan sebelum sampai pos Papa Tere, matahari telah meninggalkan kami.

Para cacing di perut kami pun telah berontak, tak mau lagi disuguhi cokelat, madu atau biskuit merek apapun, mereka mau nasi! Lebih tepatnya, nasi bikinan chef Adjie, lengkap dengan sayur capcay, tempe goreng tepung dan nugget. Maka jadilah kami pasang tenda di tempat yang cukup landai. Sementara itu chef Adjie beraksi.. dan sejam kemudian, this is it! Cacing di perut kami pun bersorak sorai.

Setelah selesai makan, kantuk datang. Maka kami segera ke tenda masing-masing. Alarm dipasang pukul 01.00. kami tidur ditemani banyak suara, mulai dari kresek-keresek di luar tenda, suara derap para pendaki yang lewat, hingga obrolan sekelompok pendaki yang memilih tempat kami menginap sebagai tempat peristirahatan sementara.

Sabtu, 29 Mei 2010

Alarm memang berbunyi pukul 01.00, namun kami baru mulai sibuk bersiap-siap pk 01.30. kemudian berangkatlah kami menuju puncak. Summit attack! Namun sayang, ketika sunrise, kami belum mencapai puncak. Kami baru sampai pos pengasinan sekitar pk 8.00 pagi.

Selepas pos Pengasinan, jalur sudah dikelilingi tanaman edelweiss, dan sudah jarang ada pohon. Setelah itu beberapa saat kemudian, sampailah kami di puncak! Dua puluh lima pendaki tim SERGAP berhasil mencapai puncak Gunung Ceremai!! Di atas awan, di atas kawah, di atas gunung, di atas ketinggian 3.078 mdpl! Cuaca cerah, puncak Gunung Slamet pun terlihat jelas dari sini. Berikut ini keindahan puncak Gunung Ceremai yang sempat saya rekam dalam kamera, untuk membuatnya menjadi abadi.

dari sini terlihat puncak Gunung Slamet, tujuan pendakian SERGAP berikutnya

kawah Gunung Ceremai

 

Setelah victory drink dan puas berfoto-foto, kamipun kembali turun kebawah. Lagi-lagi saya berada di tim paling belakang, bersama dengan enam teman yang lain. Sedangkan tim yang lain sudah jauh di depan. 

Suatu ketika di perjalanan tanpa makanan dan minuman itu, kami ingin tahu apakah camp kami masih jauh, maka salah satu dari kami pun berteriak “SERGAAAAPP!!”, dan tanpa disangka, ada suara balasan “SERGAP!” Suara yang sangat sigap, suara yang keluar dari orang yang pasti sudah kenyang, suara yang kami kenal! Ternyata mas Wahyu, mas Bayu, dan mas Ahmad datang menyusul kami!

Tidak hanya membawa diri, mereka juga membawa makanan dan minuman!! Ahh.. aku  langsung melihat ada lingkaran putih diatas kepala dan sayap dipunggung mereka. Kami yang kelaparan inipun segera makan, walaupun hanya kebagian dua suap, namun itu sangat berarti. Lalu kamipun melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di camp, tidak bisa berlama-lama lagi. Kami langsung makan seadanya, kemudian packing untuk turun kebawah. Hari sudah gelap. Senterku pun sudah gelap, tidak mau nyala lagi. Maka secara bergantian mas Setyo dan mas Ahmad menerangi jalanku.

Kakiku semakin lama semakin terasa berat, belum sempat diistirahatkan sejak perjalanan turun dari puncak tadi. Agar beban kaki berkurang, aku mulai mengandalkan kekuatan tangan dengan banyak bertumpu pada akar, batang pohon, carrier Mas Setyo, Mas Ahmad, Mba Wiwiek, atau siapapun dan apapun yang bisa aku genggam.

Cara demikian cukup membantu, namun tidak bertahan lama, karena kakiku semakin sulit ditekuk, semakin nyeri, dan semakin berat. Lalu lima belas menit kemudian kakiku diurut. Agak bete karena harus membuat teman-teman yang lain menunggu, tapi berusaha berpikir positif, siapa tahu setelah diurut ini aku jadi lebih kuat dan sanggup turun kebawah.

Dan ternyata memang benar. Setidaknya untuk beberapa waktu. Pijitan mas Arief yang mantap itu berhasil membuatku kuat melangkah beberapa kilometer, sekaligus membangkitkan semangatku untuk bisa sampai kebawah malam itu juga. Sakit di kaki memang belum hilang, namun setidaknya baterai kakiku sempat terisi ulang saat dipijit mas Arief.

Mendekati pos Kuburan Kuda, kondisiku semakin buruk. kaki semakin sulit bergerak, perut keroncongan, tangan sudah lemas, dan kepala pusing. Ketika istirahat untuk yang kesekian kalinya, aku mulai merasa ada yang aneh. Aku mendengar suara dari belakang, sangat dekat, seakan satu meter dibelakangku. “Bruk bruk bruk bruk..” suara itu tidak semakin dekat atau semakin jauh, tapi tetap disitu. Tetap keras dan tetap dekat dibelakangku.

Aku pikir ada rombongan pendaki yang sedang turun, namun sampai beberapa menit kemudian, tidak ada pendaki yang lewat. Sedangkan suara itu tetap ada. Penasaran, aku pun bertanya ke mas Arief. “mas, dibelakang ada orang ya?” Mas arief hanya nyengir. Nyengir yang maksa. Nyengir yang sama sekali tidak memberikan ketenangan batin. Nyengir yang mengingatkanku tentang sejarah pos kuburan kuda. Baiklah, aku mengerti.

Memang harus sampai pos terdekat secepatnya! Untuk itu maka digendonglah aku sampai ke pos Kuburan Kuda. Saat berhenti di pos, badan ini mulai menggigil kedinginan. Kemudian dengan segala pertimbangan, maka diputuskan aku, mas Andi, mas Arief, mas Ahmad, dan mba Nina kembali membuka tenda di pos ini, bersamaan dengan kelompok Gerakan Sapu Gunung yang sudah lebih dulu nge-camp. Sedangkan yang lain lanjut turun kebawah.

Minggu, 30 Mei 2010

Keesokan harinya setelah bangun, tidak berlama-lama, kami segera sarapan dan beres-beres. Sejam kemudian, kamipun memulai perjalanan turun dari pos Kuburan Kuda. Perjalanan berlangsung lancar, tidak banyak istirahat, dan dua jam kemudian, sampailah kami berlima di pos Cibunar! Disambut teman-teman SERGAP lain yang sudah terlebih dulu sampai dan nge-camp disana.

Melihat warung di pos Cibunar, langsung saya memesan es teh manis. Maklum, kesulitan air yang dirasakan di atas Gunung  Ceremai membuat saya lupa diri. Gelas pertama habis, saya minta tambah satu gelas lagi. Tapi ternyata perut ini menolak kehadiran cairan dingin ini. Setengah jam kemudian, dua gelas es teh manis itu keluar kembali dari mulut saya.

Sekitar pukul 10.00 kami turun ke jalan raya, menunggu bus. Setelah dapat bus, ditengah jalan bus mogok, tim SERGAP pun dengan cekatan segera membantu mendorong bus. Namun aku melewatkan momen seru ini, karena obat Antimo telah membuatku kehilangan kesadaran ketika insiden mogok itu terjadi.

Perjalanan yang panjang. Bus kami baru masuk Jakarta sekitar pukul 09.00 malam. Berhenti di beberapa terminal, akupun baru sampai rumah nyaris tengah malam. Beruntung keesokan harinya aku sedang tidak ngantor, jadi punya waktu untuk bermanja-manja dirumah seharian penuh.

***

Pendakian ke Gunung Ceremai bersama tim SERGAP ini terus melekat dalam memoriku. Bahkan lama setelah pendakian, hari-hari kami masih diwarnai kenangan Ceremai itu. Luka-luka dan sakit di kaki tidak pernah kami sesali. Semua itu terlihat dari tag-tag-an dan komen-komen-an foto di facebook yang bertubi-tubi. Terbukti, bertahan satu C.I.N.T.A di hati para tim SERGAP. Sesuai dengan lagu favorit mas Andi, sang komandan.

Memang, alam yang indah akan menjadi lebih indah lagi ketika dinikmati bersama teman-teman yang juga indah. Demikianlah kebersamaan di tim SERGAP telah membuat pendakian ke Gunung Ceremai ini menjadi sangat indah dan bikin nagih.

Tim SERGAP, singkatan dari Serdadu Gabungan Penikmat Alam, merupakan komunitas yang muncul sejak 29 Juli 2008 silam. Belajar dari pengalaman mendaki bersama kelompok lain, sang komandan Andi Rahadi membentuk SERGAP untuk mendorong semua orang ikut berpetualang sekaligus memberi kenyamanan bagi pesertanya. Rasa nyaman tersebut terwujud dalam kebersamaan yang sangat erat, saat sakit maupun senang, serta jaminan untuk mengadakan trip tanpa harus mengambil cuti.

Jadi bagi kalian yang belum pernah mendaki gunung atau belum pernah mendaki bersama SERGAP, maka mulailah mengunjungi www.sergapindonesia.com untuk mencari tahu jadwal pendakian mereka berikutnya.

SERGAAAPP!!!!!

Nantikan ulasan profil lengkap tim SERGAP di majalah online Backpackin’ yang terbit akhir bulan Juni 2010!

 Terima kasih kepada seluruh SERGAPers: Andi Rahadi, Arief, Ahmad, Nina, Adjie, Ricci, Wiwik, Aank, Ika, Putri, Yelly, Bayu, Abas, Avant, Ashar, Wahyu, Buddy Gol, Setyo, Ocil, Akbar, Meyen, Rizuka, Ben, Iqbal, Iqbul, Sastri. 

p.s: Mas Andi, Mas Wahyu dan Mba Putri, fotonya aku pinjam yaa ^^


Aksi

Information

5 responses

28 06 2010
Pendaki

mantap………….

17 07 2010
sylvia.sylviuu

waaahhhh, seru :))

gabung dong , boleh ?? hhe

13 01 2011
gunawan

serrruuu ….mantap

15 04 2011
minus

petualangan yang sangat seruu….
aku terakhir ke puncak ciremai akhir tahun 99 tepat nya malam tahun baru 2000
mendengar cerita ini aku jadi kangen sama ciremai.sayang sekali waktu aku naik ciremai ga ada yg bawa kamera.maklum ga ada yg punya.

27 07 2012
momo

seru banget gan,
ane pertama naik ciremay akhir tahun kemaren ber 3 doanx,.
jadi kangen sama jalur linggarjati,.
mantab2..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: