WE’RE MOVING

27 06 2010

Kami telah pindah ke rumah baru!!!

Untuk membaca catatan – catatan perjalanan dan majalah edisi terbaru, kawan – kawan dapat menuju:

http://backpackinmagazine.com





Cinta di Ceremai bersama SERGAP

12 06 2010

Oleh Ambar Arum

Pendakian kali ini aku lakukan bersama tim SERGAP. Tim yang baru aku dengar namanya beberapa minggu yang lalu dari seorang teman. SERGAP, nama yang aneh, atau malah lucu karena mengingatkan semua orang pada salah satu program berita kriminal di televisi. Bayangan awalku tentang para anggotanya kurang lebih begini: tipikal serius, wajahnya datar dan kaku, badan tegap, pokoknya macam para polisi atau pejabat militer pada umumnya. Tapi semua imajinasi itu runtuh tak berbekas…

 

Karena ternyata mereka seru, imut dan lucu-lucu…🙂

Kamis, 27 Mei 2008. pk. 20.30

Sampai di terminal Kampung Rambutan, baru ada dua orang: Iqbal dan Ashar (black ninin), agak kaget karena kupikir aku telat, mengingat jadwal kumpul jam 20.00, tapi ternyata teman-teman sudah berkumpul di ujung lain terminal.

Perjalanan pun dimulai sekitar pk 10.00  menggunakan bus jurusan Jakarta – Kuningan. Mulai dari mesin dinyalakan, sampai tiba di Linggarjati, kami ditemani musik kencang selama perjalanan, seakan memaksa kami para penumpang untuk tetap melek, menemani si sopir. Ditambah dengan posisi dudukku yang cuma dapat bagian setengah pantat, maka gagallah harapanku untuk dapat tidur malam itu.

Jumat, 28 Mei 2008. pk 06.00

Kamipun sampai di Linggarjati sekitar pk 06.00. Setelah beres-beres, makan, sambil menunggu tim berikutnya datang, dimulailah briefing. Anggota tim SERGAP kali ini 27 orang, jumlah yang termasuk banyak untuk sebuah pendakian. Maka kami dibagi menjadi 3 tim, dan aku masuk dalam tim 2. Kami mulai menanjak kurang lebih  pk 10.00

Seiring perjalanan, pembagian tim mulai berantakan. Terjadi banyak transfer pemain dari tim satu ke tim dua, tim dua ke tim satu, tim tiga ke tim satu, dan seterusnya.

Sekitar jam 12.00 kami berhenti untuk makan siang dan sholat. Barangkali aku masih norak, namun aku sangat kagum dan bangga dengan teman-teman tim SERGAP, yang tidak lupa menjalankan kewajiban sholatnya, meski sedang berada di alam terbuka. Ini bukan pemandangan yang biasa kulihat, mungkin karena aku masih sangat jarang naik gunung, dan aku seorang nasrani.

Perjalanan diteruskan. Dalam pendakian kali ini tim SERGAP juga melakukan pemasangan papan jalur di semua pos yang dilewati dari jalur Linggarjati, mulai dari pos Cibunar, hingga pos Pengasinan. Pemasangan dilakukan oleh Mas Arief dibantu dengan Mas Ahmad.

 

Menurut target, diharapkan kami sampai di pos Pengasinan pk 18.00 , kemudian bermalam disana dan berangkat menuju puncak pk 03.00 keesokan harinya. Namun matahari pun bosan menunggu kami sampai di pos Pengasinan, bahkan sebelum sampai pos Papa Tere, matahari telah meninggalkan kami.

Para cacing di perut kami pun telah berontak, tak mau lagi disuguhi cokelat, madu atau biskuit merek apapun, mereka mau nasi! Lebih tepatnya, nasi bikinan chef Adjie, lengkap dengan sayur capcay, tempe goreng tepung dan nugget. Maka jadilah kami pasang tenda di tempat yang cukup landai. Sementara itu chef Adjie beraksi.. dan sejam kemudian, this is it! Cacing di perut kami pun bersorak sorai.

Setelah selesai makan, kantuk datang. Maka kami segera ke tenda masing-masing. Alarm dipasang pukul 01.00. kami tidur ditemani banyak suara, mulai dari kresek-keresek di luar tenda, suara derap para pendaki yang lewat, hingga obrolan sekelompok pendaki yang memilih tempat kami menginap sebagai tempat peristirahatan sementara.

Sabtu, 29 Mei 2010

Alarm memang berbunyi pukul 01.00, namun kami baru mulai sibuk bersiap-siap pk 01.30. kemudian berangkatlah kami menuju puncak. Summit attack! Namun sayang, ketika sunrise, kami belum mencapai puncak. Kami baru sampai pos pengasinan sekitar pk 8.00 pagi.

Selepas pos Pengasinan, jalur sudah dikelilingi tanaman edelweiss, dan sudah jarang ada pohon. Setelah itu beberapa saat kemudian, sampailah kami di puncak! Dua puluh lima pendaki tim SERGAP berhasil mencapai puncak Gunung Ceremai!! Di atas awan, di atas kawah, di atas gunung, di atas ketinggian 3.078 mdpl! Cuaca cerah, puncak Gunung Slamet pun terlihat jelas dari sini. Berikut ini keindahan puncak Gunung Ceremai yang sempat saya rekam dalam kamera, untuk membuatnya menjadi abadi.

dari sini terlihat puncak Gunung Slamet, tujuan pendakian SERGAP berikutnya

kawah Gunung Ceremai

 

Setelah victory drink dan puas berfoto-foto, kamipun kembali turun kebawah. Lagi-lagi saya berada di tim paling belakang, bersama dengan enam teman yang lain. Sedangkan tim yang lain sudah jauh di depan. 

Suatu ketika di perjalanan tanpa makanan dan minuman itu, kami ingin tahu apakah camp kami masih jauh, maka salah satu dari kami pun berteriak “SERGAAAAPP!!”, dan tanpa disangka, ada suara balasan “SERGAP!” Suara yang sangat sigap, suara yang keluar dari orang yang pasti sudah kenyang, suara yang kami kenal! Ternyata mas Wahyu, mas Bayu, dan mas Ahmad datang menyusul kami!

Tidak hanya membawa diri, mereka juga membawa makanan dan minuman!! Ahh.. aku  langsung melihat ada lingkaran putih diatas kepala dan sayap dipunggung mereka. Kami yang kelaparan inipun segera makan, walaupun hanya kebagian dua suap, namun itu sangat berarti. Lalu kamipun melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di camp, tidak bisa berlama-lama lagi. Kami langsung makan seadanya, kemudian packing untuk turun kebawah. Hari sudah gelap. Senterku pun sudah gelap, tidak mau nyala lagi. Maka secara bergantian mas Setyo dan mas Ahmad menerangi jalanku.

Kakiku semakin lama semakin terasa berat, belum sempat diistirahatkan sejak perjalanan turun dari puncak tadi. Agar beban kaki berkurang, aku mulai mengandalkan kekuatan tangan dengan banyak bertumpu pada akar, batang pohon, carrier Mas Setyo, Mas Ahmad, Mba Wiwiek, atau siapapun dan apapun yang bisa aku genggam.

Cara demikian cukup membantu, namun tidak bertahan lama, karena kakiku semakin sulit ditekuk, semakin nyeri, dan semakin berat. Lalu lima belas menit kemudian kakiku diurut. Agak bete karena harus membuat teman-teman yang lain menunggu, tapi berusaha berpikir positif, siapa tahu setelah diurut ini aku jadi lebih kuat dan sanggup turun kebawah.

Dan ternyata memang benar. Setidaknya untuk beberapa waktu. Pijitan mas Arief yang mantap itu berhasil membuatku kuat melangkah beberapa kilometer, sekaligus membangkitkan semangatku untuk bisa sampai kebawah malam itu juga. Sakit di kaki memang belum hilang, namun setidaknya baterai kakiku sempat terisi ulang saat dipijit mas Arief.

Mendekati pos Kuburan Kuda, kondisiku semakin buruk. kaki semakin sulit bergerak, perut keroncongan, tangan sudah lemas, dan kepala pusing. Ketika istirahat untuk yang kesekian kalinya, aku mulai merasa ada yang aneh. Aku mendengar suara dari belakang, sangat dekat, seakan satu meter dibelakangku. “Bruk bruk bruk bruk..” suara itu tidak semakin dekat atau semakin jauh, tapi tetap disitu. Tetap keras dan tetap dekat dibelakangku.

Aku pikir ada rombongan pendaki yang sedang turun, namun sampai beberapa menit kemudian, tidak ada pendaki yang lewat. Sedangkan suara itu tetap ada. Penasaran, aku pun bertanya ke mas Arief. “mas, dibelakang ada orang ya?” Mas arief hanya nyengir. Nyengir yang maksa. Nyengir yang sama sekali tidak memberikan ketenangan batin. Nyengir yang mengingatkanku tentang sejarah pos kuburan kuda. Baiklah, aku mengerti.

Memang harus sampai pos terdekat secepatnya! Untuk itu maka digendonglah aku sampai ke pos Kuburan Kuda. Saat berhenti di pos, badan ini mulai menggigil kedinginan. Kemudian dengan segala pertimbangan, maka diputuskan aku, mas Andi, mas Arief, mas Ahmad, dan mba Nina kembali membuka tenda di pos ini, bersamaan dengan kelompok Gerakan Sapu Gunung yang sudah lebih dulu nge-camp. Sedangkan yang lain lanjut turun kebawah.

Minggu, 30 Mei 2010

Keesokan harinya setelah bangun, tidak berlama-lama, kami segera sarapan dan beres-beres. Sejam kemudian, kamipun memulai perjalanan turun dari pos Kuburan Kuda. Perjalanan berlangsung lancar, tidak banyak istirahat, dan dua jam kemudian, sampailah kami berlima di pos Cibunar! Disambut teman-teman SERGAP lain yang sudah terlebih dulu sampai dan nge-camp disana.

Melihat warung di pos Cibunar, langsung saya memesan es teh manis. Maklum, kesulitan air yang dirasakan di atas Gunung  Ceremai membuat saya lupa diri. Gelas pertama habis, saya minta tambah satu gelas lagi. Tapi ternyata perut ini menolak kehadiran cairan dingin ini. Setengah jam kemudian, dua gelas es teh manis itu keluar kembali dari mulut saya.

Sekitar pukul 10.00 kami turun ke jalan raya, menunggu bus. Setelah dapat bus, ditengah jalan bus mogok, tim SERGAP pun dengan cekatan segera membantu mendorong bus. Namun aku melewatkan momen seru ini, karena obat Antimo telah membuatku kehilangan kesadaran ketika insiden mogok itu terjadi.

Perjalanan yang panjang. Bus kami baru masuk Jakarta sekitar pukul 09.00 malam. Berhenti di beberapa terminal, akupun baru sampai rumah nyaris tengah malam. Beruntung keesokan harinya aku sedang tidak ngantor, jadi punya waktu untuk bermanja-manja dirumah seharian penuh.

***

Pendakian ke Gunung Ceremai bersama tim SERGAP ini terus melekat dalam memoriku. Bahkan lama setelah pendakian, hari-hari kami masih diwarnai kenangan Ceremai itu. Luka-luka dan sakit di kaki tidak pernah kami sesali. Semua itu terlihat dari tag-tag-an dan komen-komen-an foto di facebook yang bertubi-tubi. Terbukti, bertahan satu C.I.N.T.A di hati para tim SERGAP. Sesuai dengan lagu favorit mas Andi, sang komandan.

Memang, alam yang indah akan menjadi lebih indah lagi ketika dinikmati bersama teman-teman yang juga indah. Demikianlah kebersamaan di tim SERGAP telah membuat pendakian ke Gunung Ceremai ini menjadi sangat indah dan bikin nagih.

Tim SERGAP, singkatan dari Serdadu Gabungan Penikmat Alam, merupakan komunitas yang muncul sejak 29 Juli 2008 silam. Belajar dari pengalaman mendaki bersama kelompok lain, sang komandan Andi Rahadi membentuk SERGAP untuk mendorong semua orang ikut berpetualang sekaligus memberi kenyamanan bagi pesertanya. Rasa nyaman tersebut terwujud dalam kebersamaan yang sangat erat, saat sakit maupun senang, serta jaminan untuk mengadakan trip tanpa harus mengambil cuti.

Jadi bagi kalian yang belum pernah mendaki gunung atau belum pernah mendaki bersama SERGAP, maka mulailah mengunjungi www.sergapindonesia.com untuk mencari tahu jadwal pendakian mereka berikutnya.

SERGAAAPP!!!!!

Nantikan ulasan profil lengkap tim SERGAP di majalah online Backpackin’ yang terbit akhir bulan Juni 2010!

 Terima kasih kepada seluruh SERGAPers: Andi Rahadi, Arief, Ahmad, Nina, Adjie, Ricci, Wiwik, Aank, Ika, Putri, Yelly, Bayu, Abas, Avant, Ashar, Wahyu, Buddy Gol, Setyo, Ocil, Akbar, Meyen, Rizuka, Ben, Iqbal, Iqbul, Sastri. 

p.s: Mas Andi, Mas Wahyu dan Mba Putri, fotonya aku pinjam yaa ^^





Bangkok on the Cheap (2)

25 05 2010

Oleh Immanuel Sembiring

bagian awal tulisan ini dapat dibaca disini

EATING

Aaahh…makan… A means to survival? Well yes, and so much more. Eating to me is a celebration, where every meal is (or should be) a feast onto itself. And in Bangkok, such celebration, such feast, need not cause you to pay through the nose because there are simply so many cheap places to eat in Bangkok. Just stick to street food action and you can eat well – very well, in fact – for around 30 Baht sekali makan. Gak jauh beda (bahkan lebih murah) dari di Jakarta kan? Harga segitu bisa untuk menu yang bervariasi mulai dari Phad Thai (mie goreng), tom yam, berbagai barbecue-an, berbagai gorengan, berbagai kari, dan – a must try – nasi campur Thailand. You can eat well tanpa sekali pun masuk ke sebuah ‘proper’ restaurant. I have no special recommendation soal street food action ini. Just give it a go and you will be delighted by the value for money you will get and the merriment the food will bring into your mouth. Oh well, kalaupun ada rekomendasi, pergilah ke street food yang ada di pasar-pasar tradisional, yang banyak dikunjungi orang lokal. Di situ taste-nya umumnya lebih original Thai – spicy, very spicy – dibanding foodstalls yang ada di daerah turis yang mungkin more or less sudah disesuaikan dengan lidah bule.

TRANSPORTASI DI BANGKOK

Simple rule: Sepanjang hari, hindari naik taksi atau bis atau tuk tuk ke pusat keramaian karena kemungkinannya besar banget kamu akan get stuck di tengah kemacetan yang gak kalah sinting dengan di Jakarta dan menyianyiakan berjam-jam waktu yang berharga di jalan.

Good thing that Bangkok has other developed modes of transportation. Gunakan subways, skytrains, the Chao Phraya Express Boat, dan small canal boats to go places. Very cheap and quite reliable and those save you from maddening traffic.

Tinggal di Thanon Khao San atau Soi Rambutri selain murah juga cukup praktis karena dekat dengan beberapa sarana transportasi alternatif.

Chao Phraya Express Boat

Untuk naik perahu menyusuri sungai Chao Phraya yang membelah kota Bangkok ini – misalnya mau ke kuil Wat Arun, Wat Pho, Grand Palace, Chinatown, atau sekedar mau menyusuri sungai saja dari ujung ke ujung – , dari Khao San jalan kakilah ke pelabuhan Phra Athit sekitar 20 menit kurang. Menyusuri Chao Phraya dari Phra Athit sampai pelabuhan Tha Thien paling-paling menghabiskan biaya sekitar 20 Baht dan sekitar 15 menit.

Canal Boats

Kanal kanal atau sungai-sungai kecil (in Thai = Khlong) ‘membelahi’ kota Bangkok seperti pembuluh darah dalam tubuh. Sungai-sungai kecil ini digunakan oleh penduduk Bangkok sebagai sarana transportasi instead of sebagai penghalang ke tujuan. Transportasi di kanal – kanal ini menggunakan perahu-perahu kecil yang berfungsi layaknya angkot di Jakarta.

Beruntung ada satu ‘terminal’ khlong boat ini di dekat Khao San, yaitu ‘terminal’ Khlong Saen Saep. Dari Khao San bisa jalan kaki, tapi agak jauh memang. Kalau untuk pertama kali mungkin lebih baik pakai tuk tuk dulu (dari Khao San ke terminal ini tidak macet koq) ke sana biar nggak kesasar. Bayar paling-paling 40 Baht. Dari terminal Khlong Saen Saep ini naik khlong boat bisa misalnya ke MBK (yang seterusnya bisa nyambung jalan kaki ke pusat perbelanjaan lain seperti Siam Square atau Paragon). Minta saja untuk turun di terminal Tha Hua Chang, biayanya Cuma sekitar 8 Baht. Atau kalau mau ke Pratunam biayanya 10 Baht.

Enaknya naik khlong boat ini selain cepat adalah kita bisa lihat kehidupan sehari hari penduduk Bangkok baik yang komutan naik perahu ini maupun mereka yang tinggal di pnggir sungai sungai kecil ini.

Kereta Api – Skytrains and Subways (Metro, kalau orang Thai nyebutnya)

Salah satu hal pertama yang perlu kamu lakukan begitu tiba di bandara Suvarnabhumi adalah ambil salah satu peta jalur kereta api dalam kota Bangkok di salah satu tourist information booths atau airport bus ticket booths. Pelajari rute-rutenya and realize that those routes can be very helpful for you to go places in a fast and convenient way. Tarifnya pun murah, ke mana mana antara 15 Baht sampai 40 Baht. Ya gak jauh jauhlah harganya dengan tarif KRL Express AC di Jakarta.

Kalau di atas kita sempat sebut-sebut terminal khlong boat Tha Hua Chang, terminal Tha Hua Chang itu letaknya dekat sekali dengan National Stadium skytrain station. Pelajari peta jalur kereta yang kamu punya dan kamu akan lihat bahwa dari situ kamu bisa mencapai ke mana-mana, seperti the famous Chaktuchak weekend market, Suan Lum, night bazaar, Hualamphong main station, Sukhumvit, atau Lumpini Park. Sekali lagi, pelajari petamu!

Tuk Tuk

Well, gunakan tuk tuk hanya untuk bepergian jarak dekat saja dan di daerah daerah yang tidak ada macet. Plain and simple. Dan jangan lupa kudu nawar yang kenceng.





Bangkok on the Cheap (1)

25 05 2010

Oleh Immanuel Sembiring

Seorang teman pernah berkomentar kepada saya, “Kamu mesti gajinya udah gede banget sampai bisa liburan ke luar negeri lama sekali”. Komentar ini diberikan sepulang saya berlibur bersama istri di Bangkok selama 8 hari saja.

Now, lepas dari serius atau bercanda atau menyindir atau ngeledek, taken at face value intinya adalah implikasi kalau bisa berlibur ke luar negeri mesti punya modal duit gede. Well, at least dalam kasus berlibur ke Thailand, this simply is not true.

Sayang sekali memang, bahkan mereka yang sudah sering ke Bangkok pun seringkali terpaku menggunakan jasa travel agencies dan tinggal di hotel-hotel berbintang simply karena tidak tahu alternatif lainnya.

To repudiate that remark about “gaji gede” (karena memang alangkah jauhnya itu dari kenyataan), dan untuk menjawab permintaan beberapa kawan yang – seperti saya – suka (atau baru ingin) traveling murah dan perlu saling bertukar info, here it is fellas, Bangkok On The Cheap (note: Tulisan ini ditujukan kepada target audience di atas.. So those of you who’ve been there, done that, bought the T-shirt, no need to smirk and remark, “Aahh..itu mah gue juga tahu…” This Note isn’t for you then).

FIRST OFF, GETTING THERE

Untuk yang ke Bangkok dengan biaya dinas, tentunya hal ini tidak masalah. Tinggal bilang ke travel agent langganan kantor ybs apakah mau naik Garuda atau Singapore Airlines atau Thai Air atau Malaysian Airlines, those flagship airlines. Mahal gak masalah karena dibayari kantor.

Untuk yang bepergian dengan biaya sendiri dan bukan orang sugih atau yang dari bapak atau embahnya sudah sugih, tidak ada pilihan lain, harus rajin browsing cari info tiket murah, di internet (travel websites ataupun airlines websites) ataupun di surat kabar.

Biasanya kalau bicara tiket murah, top of mind-nya adalah Air Asia. While it is true that Air Asia often offer very low-priced tickets, it is advisable to also browse other airlines’ ticket prices. It may be worth it. Saya pernah dapat tiket ke Bali dari Lion Air yang jauh lebih murah daripada tiket Air Asia.

Baiknya lakukan browsing ini sejak jauh jauh hari. Biasanya makin jauh jarak waktu dari kita book tiket sampai ke tanggal keberangkatan, makin rendah harga tiket yang bisa dapatkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan kalau mau dapat tiket murah, carilah waktu penerbangan yang bukan ‘peak season’. Naturally, di peak seasons harga-harga tiket (dan penginapan) akan melambung. Peak season ini bisa berarti peak season di Indonesia (Ramadhan, Idul Fitri, akhir tahun, musim libur anak sekolah, or even simple weekends) ataupun peak season di negara tujuan (do your homework kalau mau irit! Pelajari dulu.).

Terakhir, walaupun tidak terlalu ada hubungannya dengan biaya, saya rekomendasikan untuk pergi ke Bangkok sekitar bulan Oktober – Januari, saat di Bangkok sedang ‘cool season’. The hot season sekitar Februari – Mei bikin cuaca di Bangkok sangat sumuk, lebih sumuk dari Jakarta. Kurang asyik buat jalan outdoor. Sedangkan wet season the rest of the year juga bisa jadi masalah saat kita sedang jalan outdoor, di pantai misalnya.

DI BANGKOK

Nah, assuming kalian sudah dapat tiket murah ke Bangkok, langkah pengiritan pertama sebenarnya sudah bisa dimulai sejak dari Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, dalam hal transportasi dari bandara ke kota/tempat menginap.

Biasanya selepas kita dari imigrasi bandara, setelah kita mengambil bagasi kita akan menjumpai banyak tawaran airport taxi, baik dari petugas-petugas resmi berseragam maupun dari papan-papan pengumuman. Taxi-taxi yang ditawarkan ini biasanya adalah ‘limousine taxis’ yang menggunakan mobil-mobil ‘mewah’. Now, while these limousine taxis are quite comfortable and reliable, I personally don’t think they deserve the 2000 Baht price tag (sekitar Rp 600ribu. Of course, kalau ke sini biaya dinas ya silakan saja pakai dan klaim ke kantor biayanya). Plus, manja kali pun…

Alternatif yang lebih murah dari limousine taxis ini adalah naik taxi-taxi biasa saja. Ignore tawaran-tawaran limousine taxis dan berjalanlah menuju taxi stands dan antri taxi biasa di situ. Dari bandara ke kota paling sekitar 600 Baht. Cocok banget kalau bepergian beberapa orang, jadi bisa share ongkosnya.

Kalau mau lebih ngirit lagi, carilah pool bis resmi bandara/Airport Express. Tarifnya ke kota tidak jauh-jauh dari 150 Baht (sekitar Rp 45ribu). Seperti juga bus Damri bandara di Jakarta, ada beberapa trayek bis bandara di Bangkok. Pilihlah bis yang ke arah tempat penginapan yang sudah di-booking. FYI, ‘backpacker center’ di Bangkok ada di area Khao San Road, Banglamphu. Ambil bus yang ke sana, kalau tidak salah nomornya AE1. Beli tiket di ticket booth, nanti akan diperiksa di atas bis.

Oya, satu lagi keuntungan naik bis bandara ini, di atas bis biasanya ada brosur-brosur penginapan murah. Di brosur itu terkadang dilampirkan voucher diskon di hotel tertentu. Terakhir ke sana, di atas bis sedang ada voucher diskon 10% di grup hotel Sawasdee (Hotel Sawasdee ini punya sekitar 4 hotel di area Khao San Road – Soi Rambutri sendiri. Recommended pick: Sawasdee House yang ada di jalan Soi Rambutri. Nice location dengan sidewalk terrace café yang sangat asyik untuk nongkrong well into the night).


PLACES TO STAY – LOW LOW LOW END

Kalau membicarakan penginapan murah meriah di Bangkok, tidak bisa tidak kita akan menyebut Khao San Road (atau Thanon Khao San, Thanon = Road/Jalan in Thai) di bilangan Banglamphu. Khao San Road ini adalah secarik jalan yang kiri-kanannya dipenuhi backpacker hotels/hostels/motels/guesthouses. Soal harga, you can go from as low as 200 Baht (1 Baht sekitar Rp 300, jadi mulai sekarang itung sendiri ya..) for a basic room tanpa AC tanpa TV dan shared bathroom to around 500 Baht for a room with air conditioner with private hot-cold shower and no TV to around 1200 Baht for a hotel room with AC, hot-cold shower and TV (and sometimes these upper end hotels have swimming pools too).

My suggestion is to take the middle road: Kamar seharga 400 – 500 Baht semalam dengan AC, private shower and no TV. Why? You don’t need to pay hundreds of Baht extra for a TV that you will rarely watch (since you’ll most likely be out of your room to enjoy your holiday) or simply won’t understand anyway (jarang ada siaran bahasa Inggris, kebanyakan local news dan sinetron atau game show berbahasa Thai). Dan kenapa tidak ambil kamar yang harga paling murah? Simply soal shared bathroomnya aja yang buat gue bermasalah. See, males banget kalo mesti antri kamar mandi, apalagi pagi-pagi pas perut ini suka rese. Dan lebih males lagi kalau udah di kamar mandi ditungguin orang antri di luar, apalagi kalau sampai diketok, apalagi kalau kita lagi nongkrong sambil baca majalah di dalam J . Alasan lainnya adalah Air Conditioning yang, untuk hawa Bangkok yang cenderung panas, untuk saya jadi esensial.

Nah, yang recommended hotel mana? No worries. Tinggal jalan dulu aja datengin satu-satu hotel/hostel/motel/guesthouse sepanjang Khao San Road ini (jangan lupa juga untuk cek Soi Rambutri, sebuah jalan yang parallel bersebelahan persis dengan Jalan Khao San ini yang juga dipenuhi penginapan backpackers dan other backpackers’ facilities, tapi lebih tenang, lebih leafy/berpohon dan tidak se-hectic Thanon Khao San) Jangan cepat-cepat menentukan pilihan. Jangan malu malu menanyakan tarif kamar dan minta lihat kondisi kamarnya sampai kamu temukan yang paling cocok untuk selera dan kantongmu.

Tip kecil dalam mencari kamar: Sempatkan juga untuk melihat-lihat guesthouses yang ada di gang-gang di belakang dan sekitar Thanon Khao San ini. Biasanya tempat yang ada di gang-gang itu (yang jaraknya paling cuma satu menit jalan kaki dari Khao San’s main road) menawarkan kondisi kamar yang sama dengan harga yang lebih murah daripada hotel/hostel/guesthouses yang berada tepat di Thanon Khao San.

And to the snobs among you, yang mengernyitkan hidung begitu mendengar kata “penginapan murah”, jangan salah, tempat-tempat ini terjaga kebersihannya dan bukan tempat mesum. Khao San bukan kawasan lampu merah seperti Patpong, Nana Entertainment Center atau Soi Cowboy. With all its merriment and excitement and liveliness, it is still perfectly okay for a family to bring their kids here.

Please note that it is recommended to book ahead to ensure you have a room ready at least for the first one or two nights that you are in Bangkok. Most hostels/guesthouses prefer internet booking, so check out their websites (look ‘em up in your Lonely Planet guidebook)

To me, Khao San (and Soi Rambutri, for that matter) is not just a place to stay. Daerah ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas turis yang membuat saya bisa merasa betah 2 hari nangkring di area ini saja tanpa beranjak ke mana-mana. Selain penginapan murah, Khao San dan Soi Rambutri ini penuh dengan sidewalk cafes, restoran, money changers, the ever present Seven Elevens, pedagang kaki lima yang menjual berbagai pernak-pernik turis, makeshift bars/bar ‘kagetan’ (yang cuma dengan bermodal meja, beberapa kursi plastic yang digelar di trotoar, dan tentunya berbotol-botol booze dan voila! You got yourself a bar!), clubs, travel agents, secondhand bookshops, dan tentunya great street food scene. Check out the photos below

lanjutan tulisan ini dapat dibaca disini





Menemukan Impian di Sancang (2)

12 04 2010

Oleh Praga Utama

bagian awal tulisan ini dapat dibaca disini

Dalam suatu kisah disebutkan, kawasan hutan lindung Sancang adalah tempat menghilangnya Prabu Siliwangi, raja Padjadjaran yang termahsyur. Pada suatu ketika Prabu Siliwangi berselisih dengan anaknya, Kian Santang, akibat masalah keyakinan. Prabu Siliwangi bersama pengikutnya melarikan diri dari kompleks kerajaan mereka di daerah Bogor ke Leuweung Sancang di Garut.

Di hutan inilah kemudian sang prabu merubah wujudnya (ngahyang) menjadi macan putih dan bersemayam di sana selamanya. Sementara para pengikutnya juga mewujud jadi harimau loreng. Nama Sancang sendiri berasal dari nama kerajaan kecil yang dipimpin saudara kandung Prabu Siliwangi. Kerajaan ini dahulu kala menguasai wilayah yang kini jadi hutan lindung tersebut.

Legenda Sancang serta Prabu Siliwangi yang ngahyang jadi macan putih, benar-benar diyakini masyarakat lokal terutama masyarakat adat Sancang, oleh karena itu mereka sangat menjaga kawasan hutan ini. Namun sayangnya, meski sudah ada legenda yang bikin tempat ini angker, dan statusnya yang ‘kawasan konservasi’ itu tidak membuat hutan dan pantainya bebas dari jamahan tangan-tangan rakus.

Aku melihat sendiri beberapa kayu gelondongan sisa illegal logging yang teronggok begitu saja di pinggir muara Cijeruk. Sementara kebutuhan perut warga yang semakin bertambah banyak membuat nelayan dan para petani rumput laut merambah pantainya dan mendirikan bangunan semi permanen di sana. Beruntung, kawasan ini tidak terlalu populer bagi wisatawan, sehingga sentuhan tangan manusia hampir tidak terasa di sana.

Menurut berita yang kubaca, perambahan hutan lindung Sancang telah merenggut keasriannya seluas 400 Ha lebih, di Hutan Sancang memang ada jenis kayu meranti merah yang terbilang langka dan harganya mahal. Sementara fauna khas Sancang seperti kerbau liar dan macan tutulnya dilaporkan sudah jarang ditemui. Sangat menyedihkan.

Kesakralan legenda hutan itu, keindahan alamnya, dan ‘pertunjukan’ alam di sana menimbulkan perasaan aneh di dalam hatiku selama menjelajahi pantainya. Di sana aku sempat memisahkan diri dari kawan-kawan lainnya. Aku berjalan melewati sebuah tanjung kecil dan melihat beting serta padang lamun berganti menjadi padang pasir yang luas.

Di padang pasir itu berkeliaran ratusan burung laut yang dengan damai berjalan-jalan, mematuki pasir, terbang rendah, menceburkan diri ke laut dan kembali membumbung dengan ikan di paruhnya. Beberapa kayu mati teronggok dan pohon bakau kerdil tumbuh di tengah-tengah oase itu.

Meski masih di pinggir pantai, tapi lautan berada sangat jauh, bahkan suara gemuruh ombak tak terdengar. Suasana di sana sangat sunyi dan tenang. Aku berjalan semakin ke tengah, ingin menyaksikan kehidupan burung liar lebih dekat. Burung-burung terbang menjauh waktu mendengar langkahku. Mereka terbang dengan formasi teratur yang sungguh menakjubkan.

Yang paling menarik, di ujung hamparan pasir itu ada sebuah kapal sejenis tugboat berukuran cukup besar yang karam. Kapal itu tampak sudah cukup lama karam di sana, itu terlihat dari tubuhnya yang berkarat. Waktu aku mencoba mendekat, ternyata lokasi antara kapal karam dengan padang pasir itu dipisahkan selat kecil dan tampak cukup dalam untuk diseberangi dengan jalan kaki, terlihat dari airnya yang biru pekat dan tenang.

Sambil menyaksikan semua keajaiban itu aku menikmati kesunyian dan kesendirian yang terasa. Di situlah momen ketika gerakan semu fatamorgana di atas hamparan pasir nan luas pasir akibat panas yang menguapkan air menyadarkanku: “Ini dia tempat yang sejak dulu kucari. Tempat yang selalu ada di dalam impianku, aku sudah menemukannya!”

Aku memang selalu mengidamkan suatu tempat lapang, dengan langit biru dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijau segar dari kerimbunan pepohonan, langit biru tua, awan putih, dan horizon yang tak terjangkau. Aku selalu merindukan kesendirian di tengah keleluasaan dan kebebasan. Aku menemukan itu semua di Sancang.

Setiap menemukan objek menarik aku berloncat-loncat kecil dengan gembira. Waktu aku duduk di atas kayu mati yang rupanya mirip kerangka dinosaurus, aku berteriak kencang, melepaskan segala rasa yang terpendam, burung-burung yang sedang mencari makan sampai kaget dibuatnya. Aku benar-benar sendiri dan menikmati momen itu. Meski begitu, alam liar tetaplah alam liar, dan terlepas dari mitos tentang Prabu Siliwangi yang menyelimuti Sancang, dari awal aku sudah membuat aturan sendiri: tak boleh lancang di Sancang (dan tempat lainnya tentu saja).

Setelah merasa cukup (meski sebenarnya tak puas hanya sebentar di sana) aku kembali ke tempat teman-temanku. Norman sudah berada di tengah hamparan beting, memancing. Aku segera membuka pakaian, tak memedulikan matahari yang menyengat dan bergabung dengannya. Norman hanya mendapatkan dua ekor ikan seukuran telapal tangan, tak tahu apa namanya.

Sambil menyaksikan Norman menunggu kailnya disambar ikan layur yang dia inginkan, aku berenang-renang di antara terumbu karang. Sesekali aku menyelam, dan membuka mata di dalam air. Meski perih aku tak peduli, aku ingin melihat kehidupan bawah air.

Seorang nelayan tradisional tiba-tiba muncul dari bawah air tak jauh darii hadapanku, dia membawa tombak panjang dan menggunakan masker snorkeling, di ujung tombaknya yang tajam seekor gurita berukuran sedang tampak menggeliat-geliat sekarat. Ikan-ikan kecil berwarna biru menyala, kuning terang, transparan, beraneka bentuk berlarian di sekitar kakiku. Bintang laut dan bulu babi dengan mudah dijumpai.

Waktu sedang asik melihat-lihat tiba-tiba ada ombak besar dan aku hampir terbawa arus. Reflek aku menggapai karang terdekat, dan tanganku terluka karenanya.

Meski setelah tiba di penginapan seharga 60 ribu semalam untuk bertiga di Santolo, aku menemukan tubuhku gosong, tanganku penuh luka, dan mataku merah berair karena terlalu bersemangat bermain—main di Sancang, tapi itu semua bukan suatu masalah buatku. Karena di dalam hati aku sudah merasa cukup.

Sancang adalah highlight di antara kekecewaan. Kekecewaan kibat menyaksikan pantai-pantai di Garut Selatan yang pada dasarnya sangat memesona, tapi dikelola dengan buruk hingga pesonanya pudar. Tapi perjalanan 3 hari dua malam ke sana adalah satu hal lain yang tak bisa kuceritakan dengan sederhana. Trek Bandung – Rancabuaya via Pangalengan dan Cisewu yang kami lalui dalam perjalanan pergi maupun pulang adalah keajaiban tersendiri.

Masih terbayang jelas, waktu petir pertama siang itu di Sancang menyadarkanku, matahari kalah perkasa oleh awan hujan. Suara menggelegar sang petir itu kuanggap alarm yang mengingatkan kalau sudah habis waktuku hari itu di Sancang. Belum juga berkemas, petir terus menggema bersahut-sahutan. Aku dan kawan-kawanku harus segera beranjak dari sana.

Begitu menginjakan kaki di atas getek yang melintasi muara Cijeruk, aku menoleh kebelakang, angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan. Buatku gerakan pepohonan seperti ‘lambaian tangan’ dari hutan Sancang buatku. Dalam hati aku berikrar untuk menyempatkan kembali lagi ke sana, Pantai dan Hutan Sancang.

Praga Utama (praga.utama@gmail.com)





Menemukan Impian di Sancang (1)

12 04 2010

Oleh Praga Utama

Langit pun menjadi gelap, angin membawa awan hujan yang tadinya bertengger jauh di perbukitan utara ke arah pantai di selatan. Elektron-elektron bertegangan tinggi telah merobek udara, guruh bergelegar kencang memecah kesunyian. Sementara angin yang semakin kencang telah menggolakkan samudera.

Itu tanda bagiku untuk segera pulang kalau tak mau terkurung di Sancang karena muara yang meluap akibat hujan, dan terpaksa pulang lewat jalan hutan yang beresiko memertemukanku dengan macan, entah asli atau jadi-jadian.

Sancang, sebuah pantai sepi di Garut Selatan yang telah menawan setengah hatiku. Hanya sehari aku ada di pantai itu, bahkan bisa dibilang, cuma setengah hari, dari pagi sampai siang. Tak seberapa luas juga wilayah yang aku jejaki, hanya sekitar 1,5 Km sepanjang garis pantainya. Leuweung (Hutan) Sancang yang dianggap keramat pun sama sekali tidak kujamah. Memang tak puas, dan keinginan untuk kembali sangatlah besar –untuk mengambil setengah hatiku yang tertawan di sana. Namun di dalam benak, aku sudah merasa cukup dengan kunjungan singkat itu. Kata ‘cukup’ yang sulit kalau harus kupaparkan batasannya.

Semua berawal dari kenekatan dan kekecewaan. Ajakan dua orang teman SMA, bernama Adam dan Norman yang mengantarku ke Sancang. Sebetulnya Sancang tak ada di dalam rencana. Hanya Santolo dan Rancabuaya (dua pantai lain di Selatan Garut) yang jadi tujuan perjalanan kami bertiga pada pertengahan November 2009 Silam. Disebut nekat karena waktu itu isi dompetku sangat tipis. Persiapan fisik dan mental pun kurang karena dua pekan sebelumnya aku baru saja pulang dari Ujung Genteng. Namun ajakan mereka sulit ditolak, karena firasat membisiki kalau ini kesempatan langka.

Setelah menghabiskan waktu selama sekitar 6 jam mengendarai sepeda motor dari Bandung sampai ke Santolo, yang ada hanya rasa lelah dan kekecewaan, karena ternyata Pantai Santolo tak seindah yang aku harapkan. Kotor, kumuh, dan membosankan, menurutku Santolo itu, Rancabuaya yang kukunjungi pada perjalanan pulang kelak kondisinya tak jauh berbeda. Maka timbulah gagasan untuk meneruskan perjalanan ke Sancang yang tak terbayang sebelumnya.

Kamis 19 November 2009, 06.30. Suara debur ombak Pantai Santolo yang terdengar dari balik bilik bambu penginapan membangunkanku. Kelelahan akibat berkendara sehari sebelumnya tidak lagi terasa. Di luar, matahari sudah berani bersinar tapi warna langit abu-abu pudar membosankan, overcast. Lautan masih bergolak, sisa badai semalam. Aku segera bersiap untuk menyongsong perjalanan singkat dari Santolo menuju Sancang. Peralatan fotografi dan barang-barang penting disatukan ke dalam tas kecil yang ringkas. Pagi itu jantungku berdebar-debar, mungkin karena tak mampu menahan arus semangat petualangan yang mengalir dalam darah, tapi bisa jadi itu hanya karena aku telat sarapan sarapan.

Ternyata, hanya perlu waktu 20 menit mengendarai motor untuk mencapai pintu masuk ke Pantai Sancang yang berjarak 3 Km dari Kota Kecamatan Pamengpeuk. Aku bersama dua kawanku tadi, serta empat orang warga asli sebagai pemandu perjalanan yang juga merupakan kenalan Norman, tiba di gerbang sebuah perkebunan kelapa yang jadi salah satu pintu masuk ke kawasan Sancang. “Pantai Wisata Cijeruk Indah” begitu tulisan yang tertera di papan kayu lapuk dengan cat merah yang sudah pudar dekat pintu masuk perkebunan kelapa itu.

Melihat kondisi pintu gerbangnya yang kumuh kuperkirakan pantai ini terlanjur layu sebelum berkembang sebagai objek wisata. Tidak heran, ternyata pantai Cijeruk yang diembel-embeli kata ‘Indah’, ketika kulihat 5 menit kemudian, tak punya daya tarik apapun selain kumpulan perahu tua, bangunan Tempat Pelelangan Ikan tak terpakai yang sudah hampir rubuh, dan sampah yang bertebaran.

Setelah berkendara menerobos kebun kelapa, kami berhenti di pinggir muara yang lebarnya hampir 15 meter dan berair kecoklatan. Pantai Sancang masih belum terlihat, karena di seberang muara yang tampak hanya sebuah delta kecil dengan semak belukar yang rimbun, serta kelebatan hutan Sancang. Ini artinya, kami bertujuh harus menyebrangi muara dan masuk hutan terlebih dahulu untuk tiba di Pantai Sancang. Dalam sepersekian detik, sempat terlintas imajinasi menyeramkan dari muara yang penuh buaya, atau belantara yang punya legenda mahsyur itu.

Pemandu kami memanggil tukang perahu untuk menyeberang. Mungkin lebih tepat disebut ‘getek’ daripada perahu. Karena alat untuk menyebrang itu adalah sebuah perahu fiber yang biasa dipakai nelayan, tapi dimodifikasi dengan penambahan dek kayu tanpa atap di bagian atasnya, sehingga motor pun bisa ikut diseberangkan.

Untuk menyeberang, bukannya menggunakan dayung, tapi sang operator ‘getek’ yang ramah itu menggunakan  tambang plastik yang terbentang membelah sungai. Serupa dengan ‘getek’ yang mudah ditemui di pemukiman kumuh di bantaran sungai-sungai berlimbah di kota besar.

Menyeberang menggunakan getek di atas muara yang cukup lebar jadi pengalaman pembuka yang lumayan mendebarkan. Selain menjaga keseimbangan tubuh sendiri, akupun harus memegangi motor. Meski arus sungai tidak terlalu deras, tapi aliran air cukup untuk mengombang-ambingkan perahu. Sekali menyebrang, perahu hanya bisa menampung dua buah motor dan empat orang penumpang.

Usai semua rombongan menyeberang muara dengan tarif Rp.1000 perkepala dan Rp.1500 per motor, kami segera memacu motor menembus kelebatan hutan. Sudah ada jalan setapak, dan jejak roda motor banyak terlihat. “Ini memang jalur yang lazim digunakan warga sini untuk mencapai Pantai Sancang,” kata si pemandu yang kubonceng.

Tumbuhan di hutan itu tak beda jauh dengan tumbuhan hutan tropis pada umumnya, seperti pohon-pohon berkayu keras, pakis, dan paku-pakuan. Sekitar 10 menit kemudian, jalan setapak habis dan motor segera menggelinding di atas pasir hitam. Di depan, lautan biru dengan ombaknya yang bergulungan dan tampak ganas terlihat jelas. “Selamat datang di Pantai Sancang,” aku memekik kegirangan di dalam hati.

Tapi ternyata, kami harus menghadapi satu muara sungai lagi untuk tiba di pemukiman nelayan Sancang. Muara yang ke dua ini ukurannya lebih kecil, dan setelah dicoba dijejak, ternyata dalamnya hanya sebetis orang dewasa. Tanpa ragu, kami melibas muara itu namun ternyata pasirnya sangat lembek, hampir saja aku terjatuh dari atas motor.

Pemukiman nelayan di Sancang hanya terdiri dari 3 buah rumah kayu semi permanen berukuran sedang tak jauh dari muara ke dua. Kukira, pemukiman ini didirikan para nelayan musiman untuk singgah sejenak di Sancang. Kami beramah-tamah sebentar dengan para nelayan dan menitipkan motor di sana. Petualangan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki. Norman yang sudah siap dengan alat pancing seharga dua juta rupiahnya langsung mengira-ngira spot terbaik untuk memancing. Aku dan Adam memisahkan diri untuk menjelajahi pantai lebih jauh.

Sancang punya bentuk pantai yang unik. Terletak di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Tasikmalaya. Jaraknya 90 Km dari Kota Garut, dan 180 Km dari Bandung. Luas kawasan konservasi Sancang mencakup hutan dan pantainya mencapai lebih dari 2000 Ha. Yang membedakan Pantai Sancang dengan pantai lain di selatan Jawa Barat ialah adanya hamparan beting sejauh kurang lebih 30 meter dari bibir pantai memisahkan lautan lepas, jadi ombak dari Samudera Indonesia tidak sampai ke pantai waktu laut sedang surut.

Beting dengan air jernih dan dangkal, padang lamun yang subur, terumbu karang dan koral-koral gosong sepanjang garis pantai Sancang bak kolam ikan air laut raksasa yang sangat menawan. Menyesal, pada waktu ke sana, satupun dari kami tidak ada yang membawa kacamata renang untuk menyaksikan keindahan bawah laut sancang.

Sisa arus pasang terlihat jelas di pasir, mahluk laut yang terperangkap di karang berenang-renang di sela-sela karang dan rumput laut yang bergoyang tenang mengikuti aliran air. Mahluk-mahluk kecil ini mungkin sedang menunggu kedatangan arus pasang pada malam hari untuk kembali ke laut lepas.

Sebelum berkunjung ke sana, aku sudah melihat rupa pantai ini dari program google earth. Di google earth memang terlihat, bentuk Pantai Sancang agak berbeda dibanding pantai lain di pesisir selatan Jawa Barat. Ada dangkalan luas antara laut lepas dengan garis pantai. Sejak melihat citra satelit Sancang via google earth, aku sudah bisa membayangkan keindahan alamnya.

Dan hari itu aku benar-benar ada di sana, menjejakan kaki dan menyaksikan langsung keindahan pantai ini. Apa yang kubayangkan sebelumnya ternyata jauh berbeda, lebih indah aslinya. Ini seperti impian yang jadi nyata.

Pantai Sancang langsung berbatasan dengan hutan lebat yang teduh. Di sana-sini terdapat sulur-sulur akar dan batang pohon berukuran besar yang menjorok ke arah pantai. Bahkan ada akar pohon yang membentuk terowongan kecil, sungguh cantik. Pasir di pantainya putih namun berbutiran kasar, pecahan kulit mollusca dan sisa-sisa tumbuhan yang mati mudah ditemukan. Umang berbagai bentuk, kepiting berkulit putih, merah, transparan berukuran seujung jari sampai sekepalan tangan membuyar berlarian seiring jelajah langkah kaki kami di sana.

Sancang menawarkan petualangan yang dahsyat. Meski harus menyeberangi muara dan menyusur sedikit ke dalam hutan, akses untuk mencapai Sancang tidaklah sulit, banyak bus antarkota yang sampai ke Pamengpeuk. Dari Pamengpeuk ada bus mini atau angkot yang lewat ke ara Cibalong, atau bisa juga sewa ojek dengan harga sepuluh ribu sampai lima belas ribu rupiah. Hal yang penting untuk dilakukan kalau ingin ke sana, apalagi dengan tujuan berkemah, ialah melapor ke jagawana setempat yang terletak di Kecamatan Cibalong.

lanjutan catatan perjalanan ke Sancang dapat dibaca disini





Getaway from Urban Life: Ujung Genteng

16 03 2010

by Yanita Rikasari Atmadjasutisna

Tinggalkan sejenak semua rutinitas membosankan di kota besar. Selamat datang di surga kecil bernama Ujung Genteng. Menikmati pagi dengan percikan air di Curug Cikaso, siang dengan makan ikan bakar di dekat dermaga tua, sore dengan keindahan sunset di muara Cipanarikan, dan malam ditutup dengan melihat penyu bertelur di pantai Pangumbahan. Suatu rangkaian perjalanan yang akan memberi kesan tersendiri dalam hati.

Ujung Genteng terletak di bagian selatan Kabupaten Sukabumi. Daerah ini berbentuk semenanjung dengan garis pantai yang berlanjut dari sisi timur hingga barat. Sebagai akses utama menuju Ujung Genteng, kota Sukabumi dapat dicapai dengan bus ekonomi/AC dari terminal-terminal besar Jakarta (Kp.Rambutan, Lebak Bulus, Pulogadung, dan Kalideres), Bandung (Leuwipanjang) ataupun kereta dari Bogor. Waktu tempuh Jakarta/Bandung-Sukabumi sekitar 3-4 jam. Dari Sukabumi dapat dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Desa Surade. Selanjutnya dari Surade menuju Ujung Genteng hanya ada ojek, terbayang mahal dan repotnya bila harus menyewa ojek itu seharian untuk berkeliling di semua tempat di Ujung Genteng. Alternatif lain yaitu menyewa kendaraan atau membawa kendaraan pribadi. Rute perjalanan darat yang ditempuh dari Sukabumi adalah Cikembar- Jampang Tengah- Lengkong- Jampang Kulon- Surade- Ujung Genteng. Jalanan yang dilewati berkelok-kelok dan ada beberapa bagian jalan yang berbatasan langsung dengan tebing. Jadi, harap berhati-hati terutama jika mengemudikan mobil saat malam hari.

Obyek wisata yang pertama dikunjungi adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso terletak dekat kota Surade, sebelum masuk kawasan Ujung Genteng. Apabila berangkat dengan mobil dari Sukabumi pkl 21.00 maka akan sampai di lokasi curug sekitar pkl 02.00. Sambil menunggu pagi, bisa bermalam di mobil atau menumpang di rumah penduduk sekitar curug. Keesokan harinya pkl 06.00, dimulailah perjalanan ke curug dengan menyewa perahu mesin seharga Rp.50.000,- pp. Pemandangan selama di perahu sangat indah, terlihat tebing hijau mengelilingi sungai, tapi sayangnya hanya sebentar. Setelah lima menit, perahu menepi dan dilanjutkan dengan jalan kaki selama lima menit lagi. Memang termasuk mahal biaya sewa perahunya, tapi mau tidak mau curug ini sudah menjadi salah satu sumber penghasilan utama penduduk disekitarnya.

Saat saya berkunjung di bulan Januari, Curug Cikaso volume airnya tumpah ruah dan sangat deras. Sekadar info, jika ingin berkunjung ke obyek wisata air terjun sebaiknya ketika musim hujan daripada rugi sudah datang dari jauh ternyata airnya lagi mengering. Curug Cikaso terdiri dari jajaran tiga air terjun besar setinggi kurang lebih 20 meter disertai dengan beberapa air terjun kecil. Terkadang muncul pelangi melengkapi keindahan ketiga curug. Spektrum aneka warna itu benar-benar memanjakan mata yang beruntung melihatnya. Setelah puas melihat dan mengambil gambar, sarapan mie goreng plus telor asin di warung dekat curug akan sangat menyenangkan.

Sekitar pkl 09.00 perjalanan dilanjutkan menuju pantai Amanda Ratu, masih dalam satu jalur menuju kawasan Ujung Genteng. Menyusuri jalanan yang dikelilingi pohon kelapa, jangan sampai mobil terlewat melihat papan bertuliskan Villa Amanda Ratu. Tidak perlu khawatir harus jadi tamu di tempat tersebut, pengunjung umum pun diperbolehkan secara gratis untuk melihat pantai dengan karang yang dari kejauhan terlihat seperti Tanah Lot di Bali ini. Jika datang ketika air laut surut, pengunjung bisa berjalan mendekati karang tersebut.

Sesampainya di kawasan Ujung Genteng sekitar pkl 13.00, ada pungutan biaya masuk sebesar Rp.5000,-/mobil dan Rp.2000,-/orang. Lokasi yang pertama kali terlihat adalah dermaga tua peninggalan Belanda dan tempat pelelangan ikan. Walaupun sudah mulai terlihat geliat tempat wisata di Ujung Genteng, namun sebagian besar penduduknya masih hidup dalam kesederhanaan sebagai nelayan. Terdapat beberapa rumah makan yang menyediakan lauk utama ikan bakar. Pengunjung dapat memilih sendiri berbagai macam ikan laut segar dengan variasi harga antara Rp.50.000-Rp.60.000,-/kg tergantung jenis ikannya dan keahlian menawar. Jangan lupa memesan sambal cobek dan sambal kecap, dijamin makan ikannya pasti nambah.

Setelah ishoma, perjalanan dilanjutkan untuk melihat sunset di muara Cipanarikan. Pastikan kondisi mobil yang dipakai dalam keadaan bagus, karena jalan menuju tempat ini hampir tidak layak dilewati, bahkan boleh dikatakan semi off-road.  Tidak ada pos penjagaan di dekat muara. Mobil akan diparkir di halaman sebuah pondok kosong dalam hutan. Jadi, cuma ada dua pilihan jika datang ke muara Cipanarikan, meninggalkan mobil tanpa penjaga di tengah hutan atau menyewa orang dari desa terdekat untuk menunggui mobil. Dari tempat parkir mobil menuju muara harus berjalan kaki selama 10 menit. Disepanjang jalur akan terlihat sarang kepiting merah. Sesekali terlihat beberapa kepiting berlalu lalang, ada pula yang mengintip malu-malu dari sarang. Namun, jangan coba menangkapnya untuk dimasak, karena kepitingnya beracun.

Sesuai namanya, muara Cipanarikan adalah daerah pertemuan antara sungai Cipanarikan dan Samudera Hindia. Di sisi utara sungai terlihat deretan pohon kelapa dan beberapa kerbau sedang menikmati rerumputan segar. Sedangkan, di sisi selatan terlihat pasir putih halus disertai deburan ombak. Sungguh sebuah tempat yang tepat untuk meresapi keindahan ciptaan Tuhan.

Daya tarik utama Ujung Genteng adalah pusat pelestarian penyu di pantai Pangumbahan. Setiap hari, pengunjung diberi kesempatan untuk mengikuti acara pelepasan tukik (anak penyu) ketika siang hari dan melihat proses penyu bertelur yang akan dimulai sekitar jam 9 malam hingga dini hari. Biaya yang dipungut sebesar Rp.5000,-/orang. Sambil menunggu waktu melihat penyu bertelur, pengunjung bisa bercengkrama dengan sesama pengunjung lain di sebuah rumah kecil di dalam pusat pelestarian, atau bisa mampir sebentar ke daerah Cibuaya. Di Cibuaya terdapat MCK, mushola dan beberapa warung makan. Salah satu makanan di warung yang patut dicoba adalah sate khas Surade, sate bumbu kacang dengan potongan ayam yang masih ada tulangnya.

Semua pengorbanan menunggu menjadi tidak sia-sia ketika akhirnya bisa melihat sendiri ritual penyu-penyu dengan ukuran panjang antara 80-150 cm itu mengeluarkan puluhan telur bulat kecil berwarna putih lalu menutupnya dengan pasir. Penyu yang bertelur di pantai Pangumbahan sebagian besar adalah spesies penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu hijau termasuk salah satu jenis penyu yang dilindungi karena populasinya sudah jauh berkurang. Penyu baru bisa bertelur setelah mencapai usia 50 tahun. Dari puluhan telur yang ia keluarkan itu, hanya satu atau dua penyu yang akan bertahan hidup hingga usia yang mencukupi untuk bertelur di tempat yang sama ketika dia menetas. Siklus kehidupan itu telah berlangsung selama ribuan tahun, namun baru beberapa puluh tahun terakhir siklus tersebut terganggu karena tangan serakah manusia yang mencuri telur penyu dan membunuh penyu untuk diambil cangkangnya sebagai pajangan.

Sebaiknya jangan memotret dengan blitz dan terlalu berisik ketika penyu sedang bertelur. Hal itu akan membuat penyu yang sudah keletihan berenang jarak jauh tidak mau mengeluarkan telurnya. Penyu hanya menyukai tempat tenang dan sunyi dengan kondisi pasir tertentu untuk bertelur. Apabila ditawari telur penyu oleh penduduk setempat, tolak secara halus karena telur-telur tersebut dijual secara ilegal. Usaha sekecil apapun akan sangat berarti bagi kelestarian penyu di pantai Pangumbahan.

Have a nice trip😀